2.29.2012

Closer to the From Prada To Nada

Welcome back to my blog, hahaha. Baru di akhir Februari ini saya akhirnya sempat bikin postingan lagi. Sejak awal Januari kemarin saya coba fokus mengerjakan skripsi. Mudah-mudahan pertengahan tahun ini bisa selesai kuliah S1 saya. Amiiin... Bantu doanya readers! #wink

Bosan berpikir terlalu keras plus melototin laptop terus-terusan, saya kembali menyambangi tempat peminjaman film-film original untuk melepas lelah dan sekedar mencari hiburan. Pilih-pilih film sana-sini, akhirnya saya putuskan untuk meminjam dua buah film. Film drama sih, soalnya dari dulu genre favorit emang drama, hahaha. Tapi ga melulu film drama, saya juga suka film komedi, trus thriller, baru deh film horor jadi peringkat terakhir di urutan genre kesukaan saya. Well, enough. Hahahah...

Film pertama: CLOSER.

Covernya
Film yang dirilis tahun 2004 silam ini dibintangi oleh pemain-pemain kelas atas seperti Julia Roberts, Jude Law, Natalie Portman (mungkin pada saat itu Portman belum setenar dia setelah membintangi film Black Swan), dan Clive Owen. Awalnya minjam film ini karena liat cover dvd-nya yang simpel dan elegan. Hahaha ga berdasar banget ya kalau minjam film. Tapi tetap lah saya baca sinopsis cerita di belakang covernya. 

Film ini sangat complicated. Penuh lika-liku hidup seseorang yang tidak bisa menghargai yang namanya cinta tulus dari pasangannya. Cerita dimulai ketika si Jude Law yang bekerja sebagai penulis lepas bertemu dengan Natalie Portman yang ditabrak mobil di suatu jalan di pagi hari. Mereka berkenalan akan tetapi si Portman pakai nama palsu saat berkenalan dengan Jude Law. Mereka kemudian tinggal bersama sampai akhirnya si Law menerbitkan sebuah buku yang foto di sampul bukunya itu hasil dari karya seorang fotografer spesialis foto wajah orang asing alias specialist of face of strangers  yang dimainkan oleh Julia Roberts.


Julia Roberts jadi fotografer


Mimik wajah Jude Law yang menyadari kalau nama pacarnya itu palsu
Ketika Jude Law mencoba mendekati Julia Roberts dan memberikan sinyal-sinyal cinta, Julia Roberts malah membalas sinyal-sinyal itu padahal dia sendiri tau kalau Law sedang berpacaran dengan Portman. Ah payah, kenapa coba pake ganggu hubungan orang? Namanya juga cinta... #eeeaa #komentar #LOL. Mereka berdua lalu selingkuh tapi ga lama, si Portman tau akan hal itu tapi dia tetap menyembunyikannya. Kasihan. *puk-puk*

Nah setelah beberapa waktu kemudian, si Julia Roberts ketemu sama Clive Owen di sebuah museum akuarium raksasa, Owen yang berprofesi sebagai dokter itu sangat menggebu-gebu ingin bertemu dengan Julia Roberts teman mesum di chattingnya. Eh ternyata si Owen ketipu, bukan si Julia Roberts yang chatting sama dia tapi si Jude Law yang sengaja menjebak orang asing untuk ngetes si Julia Roberts. Finally, Clive Owen dan Julia Roberts saling suka dan kemudian menikah. 

Perbincangan alot antara Portman dengan Owen


Portman sedang sedih
Dari awal sampai pertengahan film saya nilai datar-datar aja, konfliknya kurang banyak. Tapi dari pertengahan sampai filmnya abis, di sanalah konfliknya mulai. Di mana si Law memutuskan untuk berterus terang kepada Portman kalau dia mencintai Julia Roberts yang pada saat yang sama si Julia juga jujur pada Owen tentang perselingkuhannya dengan Law. "Ah matiiiii... pada jujur-jujuran mereka" komentar saya. Ya gitu deh, masing-masing pasangan marah lalu bercerai dan mencari pelampiasan. Si Owen pergi ke pab dan bertemu Portman yang sebenarnya berprofesi sebagai stripper. Mereka bercerita dan terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Si Owen ini gokil abis, doi cerdik dan sangat ambisius untuk membalaskan dendamnya ke Law yang udah menodai perkawinannya dengan Julia Roberts. Pokoknya endingnya lumayan ga bikin ngantuk. 

Adegan mereka kencan

Film Closer ini ada adegan yang tidak boleh ditonton oleh anak-anak di bawah umur, jadi ini khusus 18+. Saya kasih nilai 6.265327623 dari 10 bintang

*****

Lanjut ke film kedua: FROM PRADA TO NADA

Covernya
Film drama yang satu ini dibintangi oleh Camilla Belle (pemain 10.000 BC) dan Alexa Vega (pemain Spy Kids yang jadi Carmen). Dari judulnya sih keliatan, pasti udah bisa menebak kalau ceritanya tentang jatuh miskin dua orang gadis kaya raya. Yap, betul sekali, Nada di judulnya itu dalam bahasa spanyol berarti tidak punya apa-apa. Ga jauh-jauh dari itu, jadi jangan terlalu menaruh harapan yang besar terhadap film ini, nanti jatohnya nyesel karena rada-rada mirip sinetron. Hahahaha.

Tapi, bisa dikategorikan ke dalam film yang complicated nih, eh tapi ga terlalu juga, di ambang batas complicated lah. Halah. Soalnya ibunya udah meninggal lama dan saat sang Ayah mereka meninggal dunia di hari ulang tahun ayahnya itu, si ayah banyak meninggalkan utang dan akhirnya si sosialita (Alexa Vega) ga bisa lagi belanja tas, sepatu dan bahkan untuk bayar paket langganan smartphone-nya ga bisa. 


Kakak-adik lagi cerita
Sifat Vega yang suka ngabis-ngabisin uang sangat jauh berbeda dengan kakaknya, Belle, yang bergaya hidup sederhana, pintar dan ramah. Belle lah yang menjadi kepala keluarga dan membimbing si Vega ketika masa sulit mereka. Rumah mereka dijual, hartanya habis, dll. Lalu kemudian Belle dan Vega diajak tinggal di rumah tantenya yang kecil di pinggiran Los Angeles. Dari sanalah mereka mulai menata hidup mereka kembali dari nol. Si kakak yang bekerja sebagai pengacara dan saling jatuh cinta dengan bosnya. Lalu si Adiknya yang masih belum terima kalau dia jatuh miskin dan mencoba memacari asisten dosen di tempat dia kuliah yang kaya raya. 


Si Vega saat mengenalkan pacarnya



Suami-istri ceritanya
Masih sama dengan Closer, awal cerita membosankan. Mulai dari pertengahan film sampai habis baru berisi dengan konflik-konflik yang bikin seru. Si Vega ditinggal gitu aja saat tubuhnya sudah ternoda oleh asisten dosen yang dia pacari yang ternyata sudah memiliki istri. Kasian... Cup cup :* tapi endingnya bagus, happy lah bisa ditebak. Hahaha... Filmnya masuk kategori silakan-ditonton-tapi-ga-terlalu-direkomendasikan. Saya kasi nilai 4.821837 dari 10 bintang. 


*****

So, segitu dulu bahasan film-film yang saya tonton di sela-sela pembuatan skripsi saya. Selamat menyambut bulan Maret. Selamat ulang tahun juga buat orang yang ulang tahunnya satu kali dalam empat tahun... Ini postingan bakal ulang tahun empat tahun mendatang, hihihi. Wassalam!

2.06.2012

Eksis di Internet


"Lo eksis banget sih". Entah itu maksudnya memuji atau mengejek, yang jelas kita semua pasti sering dengar kalimat itu. Saya juga sering ngeledek dan diledek kayak gitu kok, hahahaha. Buat saya sebenarnya ga masalah mau ngeledek atau diledekin sama kalimat itu, asal untuk lucu-lucuan sesama teman. :-D

Kata eksis juga ga lepas dari dunia maya (internet). Remaja bahkan anak SD pun sekarang eksisnya di internet. Dikit-dikit update status di Facebook atau Twitter. Nampaknya internet sudah menjadi kewajiban untuk dilaksanakan. Bahkan teman dekat saya pun suka uring-uringan sendiri kalau sinyal di HP-nya mendadak ilang saat lagi asyik facebook-an dan twitteran atau BBM-an. Saya juga kadang-kadang. Hahaha :))

Ngomong-ngomong soal internet, banyak lho manfaat yang bisa diambil dari dunia maya ini. Untuk yang hobi fotografi bisa searching cara-cara terbaik dalam mengambil gambar. Lalu untuk orang yang hobi sejarah dan budaya Indonesia, dengan internet bisa mempelajari dan mengenal lebih dalam tentang Indonesia yang kaya akan budaya, misalnya ingin tau tentang candi Borobudur, Prambanan, atau ritual-ritual unik yang dilakukan oleh orang Batak atau orang Bali, dll. Atau bagi mahasiswa kayak saya? cari refrensi bahan kuliah donk, semakin banyak refrensi, semakin pede dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dosen. :D Ya, walaupun banyak juga hal-hal negatif di dunia maya ini, itu semua kembali kepada orang yang menggunakannya. Manfaatkanlah internet secara bijaksana. 

Tren eksis dengan internet
(gambar dari mediaindonesia.com)
Balik lagi ngomongin soal eksis, keeksisan seseorang juga kadang dinilai dengan punya banyak teman dari jejaring sosial. Mau punya banyak teman dari dunia maya? gampang banget, tinggal gabung di Facebook, Twitter, kenalan dengan orang-orang baru, trus ketemuan di dunia nyata atau nama kerennya kopdar. Tapi ga boleh kebablasan juga nyari eksis di facebook/twitter dengan nyebar-nyebarin hal yang ga bener yang memancing emosi masyarakat dunia maya, itu namanya gila, kebangetan. Eksis ga perlu sampai segitunya. Yang positif-positif aja. Semua orang boleh eksis di dunia maya, untuk hal-hal apapun, mau bikin video kayak Briptu Norman, boleh... Mau masukin foto-foto ke facebook, siapa yang larang... Tapi... Ada tapinya nih... boleh eksis, tapi selalu berhati-hati karena yang namanya dunia maya, siapa aja bisa berbuat jahat.

Menghasilkan uang via Internet juga bisa dibilang eksis lho, kayak blogger-blogger yang jualan pernak-pernik dari barang bekas, atau hasil kreasi sepatu lukis,dll. siapa yang ga seneng coba, jualan di Internet tanpa perlu bersorak-sorai seperti di pasar, barang jualan kita laku? ya kan?!

Eksis dengan punya pengetahuan soal musik lokal dan internasional? gampang banget, tinggal ke Youtube atau situs-situs streaming radio. Kamu bisa jadi tau lagu-lagu yang update dari artis kesayanganmu.

Tapi eksis di internet kalau ga punya kartu buat internetan juga susah, makanya pakai provider yang baik yang ga menguras kantong, apalagi mahasiswa kayak saya. Rekomendasi temen-temen banyak merujuk ke Axis, saya mau coba pake ah, katanya  cuma Rp 9.900/minggu kita udah bisa menikmati internet unlimited dan bisa eksis, murah banget kan?!. Cek ke sini deh biar lebih yakin: http://axisworld.co.id/Paket_Internetan

2.03.2012

Sudah Hapus Tatomu?

Dulu waktu kecil, kalau liat orang yang ada tatonya, entah itu di tangan kanannya (yang kalau pake baju lengannya itu dililpat-lipat sampai ke bahu biar keliatan, hahaha), atau di kaki yang gambar kepala singa, dan lain-lain, itu saya mikirnya pasti preman pasar atau preman yang suka nongkrong di sudut-sudut jalan. Hahaha. Ya maklum, dulu tato kan emang terkenal dipake oleh orang-orang yang suka akan kekasaran kayak preman. Apalagi dulu masih SD yang kalau ada tokoh preman di tv pasti ada tatonya. Jadi pengetahuannya cuma sampai segitu, wahihi :D



Tapi sekarang berbeda, semua berubah setelah negara api menyerang tato udah ga jadi hal yang tabu dan khusus disematkan untuk orang-orang yang identik dengan dunia kejahatan, tapi jadi hiasan tubuh yang populer yang digunakan oleh orang banyak, bahkan perempuan. Wow ga sih?! Biasa aja tuh (jawab audience yang baca, hahah). Di Indonesia, publik figur udah ga ragu lagi memamerkan tatonya, ada yang di lengan, ada yang di punggung, dll. Belum lagi orang-orang biasa. Mungkin udah banyak banget. Ssstt, saya juga sempat kepikiran pengen tatoan lho, abis liat tato tulisan Arab di tangannya Olla Ramlan yang keliatannya keren, tapi pengennya bikin di pinggang, biar ga ada yang tau, huahahahaa. Untungnya ga cepat-cepat ngambil keputusan, soalnya bakal banyak efek yang akan saya terima setelah ditato itu.

Tato lucu Olla Ramlan


Itu baru di Indonesia, coba kita liat ke orang Amerika, mungkin banyaknya berapa kali lipat dari jumlah orang bertato di negara kita. Menurut survei yang dilakukan oleh Pew Research Center (2006): 36% dari orang Amerika yang berusia 18-25 tahun dan 40% dari mereka yang berusia 26-40 tahun, memiliki tato (setidaknya satu tato). Data itu saya dapat dari situs ini: http://www.vanishingtattoo.com/tattoo_facts.htm. Makin penasaran, saya baca artikelnya sampai ke bawah dan menemukan hal yang menakjubkan: 84% dari mereka yang bertato tidak menyesali kalau mereka punya tato. Hahaha, namanya juga suatu kebanggaan kalau udah punya tato kayaknya. :D

Tapi, saya menemukan hal yang menarik dari orang-orang bertato di Amerika sekarang ini. Apa itu? Menghapus tato merupakan tren baru di kalangan kawula muda Amerika. Ternyata di Amerika sana lagi happening buat ngapus-ngapusin tato. Dan klinik-klinik yang bisa menghapus tato jadi sangat laku di Washington sana.  Buka link berita di VOAnews tanggal 19 Januari 2012 di atas itu deh. Hahaha. Lucu aja, ternyata kalimat "everything's changing" berlaku juga ke pemikiran mereka yang bertato. Malah jadi musim menghapus tato di sana. Saya kutip beberapa kalimat di artikel itu:

Jennifer Bezdicek, pakar hukum di Washington, datang ke klinik Saler untuk menghapus sebuah tato kecil bergambar hati dan bunga mawar dari pergelangan kakinya. Ia menuturkan, "Saya membuat tato ini ketika berusia 18 tahun. Bukan keputusan cerdas yang pernah saya buat. Saya hanya ingin menghapus semuanya dan tidak perlu mengkhawatirkannya lagi."

Barangkali si Jennifer Bezdicek itu ada kenangan tersendiri di tatonya itu yang bikin dia galau berkepanjangan, dan memutuskan untuk move on dengan menghapus tatonya. Hahahah. :p (Peace...)

Jhonny Depp
Apapun keputusan mereka soal tato itu, mau mereka tetap bertato ataupun ingin menghapusnya, itu adalah pilihan mereka, tapi saya beneran mendukung deh orang-orang yang ingin ngapusin tato-tato mereka, soalnya ga sedikit lho efek yang muncul setelah bikin tato.

Banyak lho efek-efeknya, diantaranya adalah efek samping. Nah, sebelum ditato seseorang haruslah sudah mikirin matang-matang apa efek sampingnya. Apalagi kalau ditato secara permanen. Karena tato dibuat dengan cara menusukkan jarum ke kulit bagian dermis atau lapisan kulit kedua yang mana sel pada dermis itu cenderung lebih tetap dan permanen, beda dengan tato temporer yang bisa ilang dalam beberapa waktu. Cari deh di Google, efek-efek apa aja yang dihasilkan setelah membuat tato. Belum lagi baca berita-berita orang yang terkena HIV-AIDS gara-gara jarum suntik yang ga steril, serem ya.