9.30.2013

Dia dan Kesederhanaannya

Kesederhanaan memang membuat seseorang jatuh cinta. Dari kesederhanaan itu terkadang memancar aura kedewasaan yang tak satupun orang lain bisa meniru. Dia dengan kesederhanaannya itu menyulap ruang kecil kosong menjadi ruang pameran luas. Dia dengan kesederhanaannya itu mengajarkanku bagaimana merakit kapal terbang dari sekotak korek api. Dia dengan kesederhanaannya itu menjadi amunisi pendingin saat batin dan pikiran mengeluarkan hawa panas menyengat. Dia tidak memberi contoh secara langsung tapi aku mencatat setiap definisi yang ia ocehkan, dan memoriku menyimpannya di folder khusus bernama dia. Dulu aku tidak peduli pada hal kecil lalu kemudian dia datang memberitahuku tentang 'tidak akan menjadi sesuatu hal yang besar jika hal kecil saja tidak disyukuri'. Sungguh menggugah. Walaupun dia tidak pernah memproklamirkan kejeniusannya namun orang-orang mengakui akan hal itu, apalagi aku. Dia dengan senyum kecil yang tergores di wajahnya selalu membuatku meleleh. Dia dengan tindakannya yang sederhana juga menyadarkanku betapa masih ada orang yang seperti ini di sekitarku. Tetaplah menjadi diri sendiri, tetaplah menjadi inspirasi, tetaplah bersama, tetaplah sederhana. 

(30 September 2013, jam 3 sore, sedang senyum, besok satu Oktober)

9.22.2013

Ketika Pulang Mendadak

Sudah hampir dua minggu aku berada di kota Bengkuang, alias kota Padang. Padahal baru liburan Lebaran kemarin aku pulang ke sini. Karena ada satu dan beberapa hal lain memaksaku untuk meninggalkan Ibu Kota untuk sementara waktu. Keberadaanku di kota ini pastinya ada tujuan penting sepenting peluncuran album terbaru para musisi tanah air. Haha. 

Siapa yang tak senang jika pulang kampung in the middle of working day? Kepulanganku kali ini tak hanya membuat keluarga baru di kosanku kaget, orang terdekatku selama di sana, sampai mamaku sendiri saja kaget. Hihi. Waktu menentukan pulang di tanggal yang aku anggap baik, detak jantung berdegup kencang karena berebut tiket (agak) murah dari maskapai Singa Udara, akhirnya dapat! Lalu kemudian berdoa semoga urusan di Padang dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah SWT. (Amin...) 

Sampai di Padang sekitar jam 9 malam. Badan terasa ingin diguyur air banget, soalnya aku bersiap-siap dari kosan untuk pergi ke Soekarno-Hatta itu jam 2 siang. Rencana sudah dirancang sempurna sejak malam sebelumnya. Sampai di Soetta semuanya lenyap meluap begitu saja saat maskapai Singa itu mengumumkan bahwa penerbanganku yang seharusnya 16.10 delay 120 menit. IYA! 120 MENIT. Gibliiik! Kenapa tidak sekalian saja delay 3 jam biar penumpang dapat uang ganti rugi 300 ribu. Ckck. Harusnya sampai di Padang jam 6 sore, malah baru berangkat jam segitu. Kesal? Jangan tanya lagi. Serasa ingin cabutin bulu kaki petugasnya sampai habis!

"Trus dari bandara ke rumah gimana?" pikirku. Padahal sebelumnya aku sudah bbm Gentha (teman terbaik) yang kebetulan sudah bersedia ditebengi untuk pulang bareng (kebetulan dia bekerja sebagai karyawan maskapai Garuda di bandara BIM Padang). Awalnya sesuai rencana, dia pulang jam 6, aku sampai di Padang juga jam 6. Dia balas bbm "Aku pulang duluan saja ya. Nanti kalau sudah sampai beritahu aku, aku yang jemput". Ternyata benar! Dia balik lagi ke bandara hanya untuk jemput aku. That's what friends are for. Hahaha. Thank you so much, Gentha. I lop yu pul! 

Selama di Padang ini, aku sempatkan reuni dengan sebagian kecil dari teman-teman blogger Palanta. Hore! Teman sharing yang tidak pernah habis ide-idenya. Sayangnya ketua sosialisasi rombongan sudah tidak berada di Padang. Kak Desti, we miss you! Kalau ke Padang kita kongkow lagi ya, kak. Ada foto untuk kakak nih.
Rombongan blogger Palanta Padang, September 2013.
Tak hanya reuni dengan teman-teman Palanta, bertemu dengan teman-teman semasa kuliah dulu saat aku berurusan di kampus beberapa hari terakhir ini juga akhirnya mengadakan ngumpul-ngumpul kecil. Ada Abek, Fandy, Emyl, Wicky, Nexa, Egi & Pelo. Mulai dari makan siang bersama di tepi pantai di belakang kampus, tempat kami biasa nongkrong waktu jam kuliah kosong (tempatnya makannya sudah berubah lebih bagus), sampai ke tanding vokal di tempat karaoke. 

Foto bertema jaman dulu di kosan Emyl.
Pantai belakang kampus. Setelah makan siang.
Pantai belakang kampus. Setelah makan siang #2.
Junkfood session.

Sudah kuceritakan mengapa aku pulang mendadak? Oh iya belum. Baiklah, let me tell you a little. Sehari setelah mendarat di Padang, aku langsung ke bank di kampus, mendaftar dan mendapatkan username & password untuk sign up di website kampus dan penyedia beasiswa magister. Benar sekali, saat itu sedang terbuka kesempatan untuk menjadi mahasiswa S2 (yang juga secara mendadak mengeluarkan pengumuman) dan dibiayai oleh DIKTI. Siapa yang tidak mau? Aku semangat menggunakan kesempatan yang diberikan itu. Sudah ikut tes TPA dan TOEFL lalu wawancara dengan Profesor, dan sekarang aku sedang deg-degan menunggu hasil seleksi beasiswa magister itu. Wish me luck, friends... Doakan aku lulus ya. Bismillah. Allahumma Yassir Walaa Tu'assir.