11.13.2018

Tulus dan Ikhlas

"Saya bantu si mpok itu tulus banget tau, mas. Saya sampe beraniin pinjem ke bos besar duit lima juta trus emas yang saya simpan saya jualin buat nambah bantuan buat si mpok itu" cerita mbak Atik kepada saya.

Setiap saya bertemu dengan mbak Atik, dia selalu bercerita tentang dinamika kehidupannya. Mulai dari cerita remeh sampai cerita serius kami saling berbagi pengalaman. Mbak Atik ini adalah beauty therapist di salah satu salon yang ada di Bintaro, Tangerang Selatan. Dalam setahun saya bertemu dengannya sekali sampai dua kali, tergantung dari seberapa kotornya muka saya, karena pria boleh saja melakukan perawatan muka biar makin kece, haaa!

Pada pertemuan kami terakhir, di September lalu, dia bercerita tentang kepulangan orang tua laki-lakinya ke Rahmatullah. Bagaimana dia menumpahkan kesedihannya lewat cerita menjadikan saya terbawa suasana. Siapa yang tidak sedih ketika orang yang disayangi pergi untuk selamanya? Cerita demi cerita mengalir sembari dia melakukan pekerjaannya di wajah saya, sampai pada akhirnya dia bercerita bagaimana dia bisa punya rumah di kawasan Bintaro yang harganya selangit itu.

Kita bisa menilai seseorang dari bagaimana dia menolong orang lain yang sedang kesusahan. Mbak Atik adalah orang yang berhati malaikat. Di antara banyak cerita yang dia bagi pada saat itu, yang paling melekat di ingatan saya adalah saat dia menolong tetangganya yang sedang butuh uang untuk menebus biaya rumah sakit. Mbak Atik yang dulu baru bekerja di Jakarta tahun 2006 dengan tabungannya yang sedikit, bisa tulus membantu orang yang sedang kesulitan.

"Saya kasihan kalau ada orang yang sedang susah dan minta tolong sama saya, mas" Katanya. Tanpa berharap apa-apa, mbak Atik merelakan hampir semua tabungannya dan ditambah uang yang dia pinjam ke bos besar kantornya untuk dipakai tetangganya yang sedang kesulitan. "Saya bilang ke mereka kalau ngembaliinnya kalau udah ada uang aja" sambungnya. Keren ya... "Mas Ferdi tau ga, uang saya dibayar pake apa akhirnya? Pake tanah, mas. Tetangga saya itu punya tanah di Parigi Raya Bintaro. Katanya ga apa-apa buat saya tanahnya itu." Sambung ceritanya. Akhirnya mbak Atik pindah dari kontrakannya dengan membangun rumah sederhana di atas tanah miliknya.

Singkat cerita, tanah di kawasan yang saat itu belum berharga, tiba-tiba dilirik oleh PT. Jaya Real Property untuk dibangun Bintaro Sektor 9. Siapa sangka, tanah di kawasan rumah mbak Atik dibeli dengan harga tinggi. Mbak Atik akhirnya mendapat ganti rugi karena rumah sederhana dan tanah miliknya dibeli perusaahan itu. "Saya ga nyangka, mas. Karena uang ganti ruginya itu banyak, saya beli lagi tanah di dekat sana, trus bangun rumah lagi deh." Ungkapnya dengan ceria. Katanya orang di kampungnya tidak percaya kalau seorang Atik bisa punya rumah di Bintaro (Jakarta). Berkat ketulusan dan keikhlasan hati mbak Atik menolong tetangganya yang sedang kesusahan, akhirnya dibalas oleh Allah Sang Pemegang Alam Raya dengan berlipat ganda. Terima kasih sudah memberikan cerita inspiratif, mbak Atik.

Silakan terharu... :')

4.14.2018

Lingkungan yang Mengubah

Sampai saat ini saya masih percaya bahwa manusia dan lingkungan adalah dua hal yang terus berinteraksi dan saling mempengaruhi. Perilaku manusia bisa mengubah lingkungan dan lingkungan juga bisa mengubah perilaku manusia. Ini bukan sebuah pembahasan tentang materi kuliah Lingkungan tapi hanya sebuah tulisan yang berasal dari pengalaman saya selama berada di lingkungan baru. Saya merasa harus menuliskan ini sebagai bahan bacaan untuk saya di masa depan dan bisa juga sebagai bahan pertimbangan saya untuk bertindak terhadap kondisi-kondisi tertentu. 

Kenapa saya mention dua hal di atas, yakni manusia dan lingkungan, adalah karena saya merasa ada yang berubah dari diri saya sejak berada di Ibu Kota. Walaupun masih dikategorikan sebagai pendatang baru, I don't know why I'm feeling different now. Jadi, setelah saya cari referensi tentang teori Psikologi Lingkungan (tautan dari sini), saya menemukan empat poin bagaimana lingkungan mempengaruhi manusia (dalam hal ini perilakunya): 

  1. Lingkungan menghalangi perilaku 
  2. Lingkungan mengundang dan mendatangkan perilaku
  3. Lingkungan membentuk diri
  4. Lingkungan mempengaruhi citra diri.
Kemudian saya mencoba menghubungkannya dengan apa yang sudah saya alami. Dulu sepertinya ga akan pernah begini tapi tidak saat saya hijrah ke Jakarta.

Sebulan yang lalu saya memarahi peminta-minta yang memaksa saya untuk memberikan uang ke dia alih-alih kasihan, hahaha. Kejadiannya sekitar jam 8 malam di trotoar dekat terminal Depok. Waktu jalan kaki sendirian di trotoar ada dua orang ibu paruh baya dengan anak kecil seusia 1 SD menegur saya. Mereka cerita kalau mereka berasal dari Kalideres dan kehabisan uang untuk bayar tiket KRL. Saya bilang "wah jauh juga dari Depok ke Kalideres, satu-satunya cara emang naik KRL". Si Ibu itu nambahin lagi kalau uangnya cuma ada Rp 15.000,- untuk bertiga ga cukup untuk naik KRL sampai Kalideres. Dia minta tambahin 30 ribu lagi supaya bisa pulang. Saya jawab "saya ga ada 30ribu, Bu", dan dengan santainya dia bilang gini "ya coba tukarkan uangnya dulu ke warung depan, kan bisa". Saya pun akhirnya menjawab begini "Lho, kok malah Ibu yang ngatur saya harus ngapain? Ibu minta uang tapi ngatur-ngatur, saya ga mau kasi" kemudian melipir pergi menjauh dari mereka. Hahahaha. Waktu saya ceritain ke teman-teman saya, mereka bilang kalau pengemis minta uang karena kehabisan ongkos pulang itu adalah modus lama. 

Baru-baru ini saya menegur ojek online yang menolak orderan. Kejadiannya pagi hari di saat semua orang buru-buru untuk sampai ke kantor. Keluar stasiun, saya pesan ojol tapi susah dapat driver karena jaringan padat. Karena ada fitur GrabNow saya datangi para ojol yang sedang mangkal, barangkali mereka lagi ga ada orderan. Pas saya minta untuk GrabNow ke daerah blok M, abangnya banyak alasan dan malah nunjuk-nunjuk temannya. Karena diburu waktu dan melihat abang ini menolak rezeki, saya bilang gini "Eh, kalau ga mau terima ya udah, ga usah nunjuk-nunjuk orang lain" Ngeselin banget! Saya tinggal buat pesan ojol lain. Hahahaha. I'm not going to use GrabNow anymore.

Pernah ditelepon oleh sales marketing sebuah perusahaan kartu kredit atau lain-lain? Yeah, I received plenty of them. Mereka ngomong panjang lebar dan ga sempat memberikan kita waktu untuk bicara. Beberapa orang pasti dengan sadisnya langsung menutup telepon. Kalau saya bukan seperti itu. Saat mereka menghela napas panjang di antara kalimat yang sedang mereka sampaikan, di saat itu saya bicara kayak gini "Sebentar, mbak tarik napas dulu, giliran saya yang bicara. Saya saat ini sedang ga punya waktu banyak karena banyak kerjaan, jadi mari kita hemat waktu dan mohon maaf saya belum tertarik dengan tawaran mbak. Mungkin coba lagi lain kali ya..." Do you know what's her answer? "Baik kalau begitu, terima kasih, Pak" Hahahaha.

Dari kejadian-kejadian di atas, saya menyimpulkan kalau sejak pindah ke lingkungan baru yang semuanya serba cepat, saya merasa menjadi lebih tegas dan berani dalam berkata dan mengambil tindakan. Adanya perbedaan lokasi di mana tinggal dan berkembang, akan menghasilkan perilaku yang berbeda. Bagi saya, perubahan yang saya rasakan adalah hal positif yang sedang berkembang yang tujuannya untuk membentuk diri. Kalian pernah merasakan perubahan seperti ini? 

3.12.2018

Selamat dan Semoga

Terima kasih ya Allah, sudah memberikan saya waktu dan kesempatan untuk menulis lagi di sini. Suer deh, mau nulis dari kapan hari tapi ga terlaksana mulu gara-gara akhir-akhir ini punya kesibukan yang bisa dibilang segudang, hahahaha. Pada pagi ini, di sela-sela waktu sebelum masuk kelas akhirnya ingat kalau belum jadi ngeblog. Itung-itung ngisi waktu sambil dengerin musik di Youtube, izinkan saya memulai cerita tentang kejadian setahun lalu yang menurut saya harus ditulis supaya jadi pengingat di masa depan. Mwehehe.

Baiklah, mundur ke Februari bulan lalu. Bulan yang kata banyak orang adalah bulan romantis karena ada hari Valentine, and for me February's still my favorite because I was born on this month. Lucu aja waktu ngebayangin bakalan ada birthday surprise layaknya anak ABG tapi saya realistis aja karena masa-masa ABG saya udah sepuluh tahun berlalu, dan memang tidak ada yang spesial ulang tahun kali ini. Damn, I'm at late 20's. Thank you God for this healthy body and mind. Hanya beberapa teman dekat yang memberikan ucapan dan doa yang baik buat saya. Semoga bukan gara-gara reminder ultah di FB ya, guys. Hahaha... Saya punya beberapa daftar doa dan harapan yang akan saya capai setahun ke depan, salah satunya adalah lolos menjadi dosen CPNS di tempat saya mengajar sekarang. Aaamin. Wish me luck, readers!. Momen spesial di ulang tahun kali ini adalah kedatangan my most favorite person in the world, mama. Kebetulan banget mama ikut ke Jakarta waktu liburan saya selesai di Pekanbaru. Ada kue ulang tahun yang dibeli kakak untuk anaknya dan saya yang ulang sama-sama di Februari ini. Hahahaha. Thank you, sis!

Oke, mundur lagi ke bulan Januari tahun ini. Bulan di mana keputusan besar saya ambil dan laksanakan. Pindah rumah. Alias tidak ngekos lagi dan menetap di rumah sendiri. Alhamdulillah yaaah, berkat diyakinkan oleh keluarga dan beberapa close friends. Sebenarnya enak sih ngekos dekat kantor, bangun sholat Subuh bisa tidur lagi sampai jam 7, baru siap-siap berangkat, trus ke mana-mana dekat. Nah, sejak pindah rumah ke daerah pinggiran sana, saya bangun Subuh langsung mandi trus siap-siap. Matahari belum keluar malah badan udah ada di stasiun. Masih ngantuk tapi sudah harus naik kereta, lalu melanjutkan tidur di kereta sambil berdiri. Bisa? Bisa kadang-kadang XD. Perjalanan PP memakan waktu hampir dua jam. This is life, dude! Trust me, I'm enjoying this. LOL

Beberapa hal menarik terjadi selama tahun 2017. Saya ikut acara paling bergengsi di Jakarta: Jalan-jalan ke Jogjakarta, Kelas Inspirasi, dan tes CPNS, hahahaha... Serius! Kelas Inspirasi Jakarta 2017 adalah salah satu momen terbangga dari diri ini karena bisa menjadi inspirator murid-murid SD di daerah Kalideres Jakarta Barat. Acara sukarela tersebut diikuti oleh ribuan inspirator dari semua profesi: Polisi, Perawat, Guru, Dosen, Pemadam Kebakaran, Nuklir Safeguard, Bankir, dsb. Jadi kegiatannya semacam ngasi tau ke murid-murid SD tentang segala macam profesi supaya mengispirasi mereka meraih cita-cita dengan profesi yang mereka senangi. Saya pribadi senang banget bisa gabung ke event itu, selain seru ketemu sama anak-anak, bisa nambah teman dari berbagai profesi, trus bisa menyambung silaturahmi sampai kapanpun. Menyenangkan sekali, bukan?! Berikut video satu menit karya kak Rahadian yg diposting oleh kak Sintya.


A post shared by Sintya Fitri (@sintfitri) on

Kedua, ikut tes CPNS yang sampai lolos tahap CAT. Guys, mendebarkan sekali lho waktu menjawab ujiannya dari menit awal sampai selesai. Belajar dari dua minggu sebelumnya supaya otak ga membeku. Ini pengalaman pertama ikut tes online setelah beberapa tahun terakhir terbit moratorium Presiden. Saya sangat antusias menunggu hari H. Wuiihh superketat pengamanannya, masuk ruang ujian hanya bawa kartu ujian, karena pensil dan kerta udah disediain. Sisir aja ga boleh masuk ruangan lho, hahaha... Walaupun tahun ini ga jebol sampai ke tahap akhir, but it's okay lah setidaknya udah nyobain tesnya, udah tau gimana bentuk dan tipe soalnya. Alhamdulillah.

Ketiga, solo traveling ke Jogjakarta bulan Agustus 2017. Wah, perjalanan kali ini memang udah diniatin dari awal tahun. Karena waktu itu merasa harus ada satu acara jalan-jalan ke daerah Jawa, jadinya nyari-nyari tiket kereta yang kebetulan lagi promo PP jadi 200 ribu saja. Pergi pakai kereta ekonomi, pulangnya jadi eksekutif. Nyampe di sana nginep di tempat si Genta, lalu dia menawarkan jasa untuk ngantar ke candi Borobudur, tapi nyewa motor sendiri-sendiri, biar berasa jalan-jalannya gitu deh pake motor ke sana-sini. Hahaha. Jogjakarta tidak akan bisa dilupakan, begitu banyak memori yang tertinggal di sana. Perjalanan kali ini adalah untuk membuat memori baru supaya bahan yang diingat bisa bertambah. Saya meramu cerita di Jogja lewat video berikut:

A post shared by F E R F A U (@ferfau) on



Begitulah kira-kira kaleidoskop saya selama setahun kemarin, dan sedikit cerita di awal tahun ini. Semoga makin rajin ngeblog deh. Kangen juga jadi blogger yang aktif. Ini adalah tahun ke-10 saya ngeblog di sini, semoga ga ada blok-blokan dari pemerintah kayak blog versi Tumblr itu ya... 

See you soon, guys. 

10.10.2017

ط

Lebih kurang dua bulan tidak mengunjungi toko buku Gramedia di daerah Matraman - Jakarta. Biasanya setiap bulan ada keinginan untuk pergi ke sana walau hanya sekedar cuci mata dengan tumpukan buku baru, atau bahkan membeli satu buku baru untuk dibaca di waktu senggang. Tapi dengan jadwal kerja yang sedikit lebih padat daripada biasanya membuat saya tidak sempat main ke sana. Akhirnya saya ke toko buku itu lagi hari Sabtu lalu ketika kepala rasanya butuh refreshing dengan melihat buku-buku baru di rak-rak yang besar. Ada yang punya kesukaan sama dengan saya gini? Hahaha...

Semakin ke sini, saya cenderung lebih senang berlama-lama di deretan koleksi buku self-improvement. Membaca beberapa sinopsis buku yang berkaitan dengan keyword "hidup sederhana dan bahagia" ternyata lebih menarik perhatian saya. Sering kali bacaan tersebut membuka pikiran saya seperti "sadar ga sadar hidup itu butuh diam dan rileks meskipun sebentar". Atau seperti kalimat di bukunya Adjie Silarus, "Akar dari banyak masalah yang kita hadapi adalah ketidakmampuan kita untuk sadar penuh - hadir utuh, lalu melepaskan dan merelakan pergi". Nasehat-nasehat yang ada di buku-buku sejenis itu mampu mengubah pola pikir saya yang biasanya menganggap hidup itu serba cepat dan kalau lambat bisa ketinggalan orang lain, sekarang sudah mulai berubah.

Otak diibaratkan sama seperti mobil yang jika dipakai terus menerus, maka mesinnya akan cepat rusak. Harus ada waktu yang dihabiskan untuk beristirahat dan merawat mesinnya. Waktu yang dihabiskan maksudnya itu tidak sama dengan membuang waktu lho, karena otak juga punya hak untuk istirahat dari memikirkan banyak hal. Supaya semuanya seimbang lagi, kita butuh diam sejenak. Supaya masalah yang sedang dihadapi bisa selesai karena kita tenang. 

Tulisan ini dan postingan-postingan berikutnya mungkin banyak dipengaruhi oleh bacaan-bacaan saya saat berlama-lama di deretan buku self-improvement itu di mana nasihat-nasihatnya sanggup meyakinkan saya bahwa hidup itu tidak sekedar doing tapi juga being. Kebanyakan doing bikin kita cepat lelah dengan semuanya, jadi jangan lupa lakukanlah being yang mana bisa diartikan seperti berdiam diri, melepaskan pikiran buruk, fokus kepada jiwa yang tenang, dan bersyukur kepada sang Pencipta. Adjie Silarus dalam bukunya Sadar Penuh Hadir Utuh mengatakan "Hidup tidak hanya dipenuhi dengan perjalanan ke luar diri, tapi juga ke dalam diri". Kalau sudah seimbang antara doing dan being, maka hidupmu akan terasa bahagia. Try it. 

7.30.2017

Ingin Bernyawa

Jika saja pertanyaan itu disuarakan kepada yang sama-sama punya kesukaan cerita panjang, jawabannya tentu akan berupa template. Berulang kali diberi sirene bahwa zona bahaya dan jangan sampai larut ke dalamnya, tapi otak dan hati kadang tidak bekerja sama. Punya keteguhan tentang bisa sejajar tapi selalu goyah berkat tidak punya percaya, alhasil selalu berputar-putar. Satu hari pun bisa menjadi sesal yang pada akhirnya diabaikan. Permainan memutar tahun selalu menjadi cambuk untuk melihat setertinggal apa bongkahan kecil tersebut, tapi tak kunjung bangkit. Pada saat ini, alur yang terulang diikuti dengan saksama. Katanya harus sanggup sampai hati melakukan itu, dan jawabanpun hanya menunggu waktu. Bantuan dari Semesta akan tiba sampai saat yang dibutuhkan oleh nyawa yang ingin hidup. 

5.14.2017

Biru Dongker Lengan Panjang

Kebingungan menunggu dua belas angka yang seharusnya menjadi sahabat ketika pulang membuat badan berkeinginan untuk rebah sejenak. Sekitar tiga puluh kemudian kata-kata panjang itu merayap masuk tanpa persiapan, dibaca dengan seksama lalu kaget bukan kepalang karena lawan diam sudah berdiri sempurna di lantai dasar. Jika ada pengeras suara mungkin keheningan menjadi pecah hanya karena dentuman nadi seluruh nyawa bergerak kencang pada saat itu. Mendinginkan suhu di meja bundar sambil menerawang jauh ke arah vertikal, entah apa yang menahan rasa ledakan tapi jelas ini adalah kapital R yang kuat yang tak bisa diraih. Scene berganti dari awan ke lawan. Kalimat bergulir menjadi ucapan demi ucapan yang sangat menyayat. Rasa ledakan berubah melahar, dipotong jeda ibadah lalu lanjut bercengkrama bersama di pinggir persegi panjang. Campur aduk seperti krayon yang patah kecil-kecil dan semuanya berada dalam satu kotak pensil dan tumpah. Biru dongker lengan panjang punya aroma yang khas saat didekati ke indera penciuman. Sudah dekat tapi terasa sangat sulit dijangkau. Di bagian ini yang mewajibkan hari berikutnya harus bisa mengubah biasa. Dari yang ada menjadi sunyi. Seperti ingin melampaui minggu supaya bisa mendayung lagi dari dermaga patah. Ini memang sebuah penutup yang dimau, Semesta pasti sudah memberi episode yang sesuai dengan kemampuan diri. Terima kasih untuk lebih kurang sembilan puluh waktu jilid empat. Senyuuum...