10.10.2017

ط

Lebih kurang dua bulan tidak mengunjungi toko buku Gramedia di daerah Matraman - Jakarta. Biasanya setiap bulan ada keinginan untuk pergi ke sana walau hanya sekedar cuci mata dengan tumpukan buku baru, atau bahkan membeli satu buku baru untuk dibaca di waktu senggang. Tapi dengan jadwal kerja yang sedikit lebih padat daripada biasanya membuat saya tidak sempat main ke sana. Akhirnya saya ke toko buku itu lagi hari Sabtu lalu ketika kepala rasanya butuh refreshing dengan melihat buku-buku baru di rak-rak yang besar. Ada yang punya kesukaan sama dengan saya gini? Hahaha...

Semakin ke sini, saya cenderung lebih senang berlama-lama di deretan koleksi buku self-improvement. Membaca beberapa sinopsis buku yang berkaitan dengan keyword "hidup sederhana dan bahagia" ternyata lebih menarik perhatian saya. Sering kali bacaan tersebut membuka pikiran saya seperti "sadar ga sadar hidup itu butuh diam dan rileks meskipun sebentar". Atau seperti kalimat di bukunya Adjie Silarus, "Akar dari banyak masalah yang kita hadapi adalah ketidakmampuan kita untuk sadar penuh - hadir utuh, lalu melepaskan dan merelakan pergi". Nasehat-nasehat yang ada di buku-buku sejenis itu mampu mengubah pola pikir saya yang biasanya menganggap hidup itu serba cepat dan kalau lambat bisa ketinggalan orang lain, sekarang sudah mulai berubah.

Otak diibaratkan sama seperti mobil yang jika dipakai terus menerus, maka mesinnya akan cepat rusak. Harus ada waktu yang dihabiskan untuk beristirahat dan merawat mesinnya. Waktu yang dihabiskan maksudnya itu tidak sama dengan membuang waktu lho, karena otak juga punya hak untuk istirahat dari memikirkan banyak hal. Supaya semuanya seimbang lagi, kita butuh diam sejenak. Supaya masalah yang sedang dihadapi bisa selesai karena kita tenang. 

Tulisan ini dan postingan-postingan berikutnya mungkin banyak dipengaruhi oleh bacaan-bacaan saya saat berlama-lama di deretan buku self-improvement itu di mana nasihat-nasihatnya sanggup meyakinkan saya bahwa hidup itu tidak sekedar doing tapi juga being. Kebanyakan doing bikin kita cepat lelah dengan semuanya, jadi jangan lupa lakukanlah being yang mana bisa diartikan seperti berdiam diri, melepaskan pikiran buruk, fokus kepada jiwa yang tenang, dan bersyukur kepada sang Pencipta. Adjie Silarus dalam bukunya Sadar Penuh Hadir Utuh mengatakan "Hidup tidak hanya dipenuhi dengan perjalanan ke luar diri, tapi juga ke dalam diri". Kalau sudah seimbang antara doing dan being, maka hidupmu akan terasa bahagia. Try it. 

7.30.2017

Ingin Bernyawa

Jika saja pertanyaan itu disuarakan kepada yang sama-sama punya kesukaan cerita panjang, jawabannya tentu akan berupa template. Berulang kali diberi sirene bahwa zona bahaya dan jangan sampai larut ke dalamnya, tapi otak dan hati kadang tidak bekerja sama. Punya keteguhan tentang bisa sejajar tapi selalu goyah berkat tidak punya percaya, alhasil selalu berputar-putar. Satu hari pun bisa menjadi sesal yang pada akhirnya diabaikan. Permainan memutar tahun selalu menjadi cambuk untuk melihat setertinggal apa bongkahan kecil tersebut, tapi tak kunjung bangkit. Pada saat ini, alur yang terulang diikuti dengan saksama. Katanya harus sanggup sampai hati melakukan itu, dan jawabanpun hanya menunggu waktu. Bantuan dari Semesta akan tiba sampai saat yang dibutuhkan oleh nyawa yang ingin hidup. 

5.14.2017

Biru Dongker Lengan Panjang

Kebingungan menunggu dua belas angka yang seharusnya menjadi sahabat ketika pulang membuat badan berkeinginan untuk rebah sejenak. Sekitar tiga puluh kemudian kata-kata panjang itu merayap masuk tanpa persiapan, dibaca dengan seksama lalu kaget bukan kepalang karena lawan diam sudah berdiri sempurna di lantai dasar. Jika ada pengeras suara mungkin keheningan menjadi pecah hanya karena dentuman nadi seluruh nyawa bergerak kencang pada saat itu. Mendinginkan suhu di meja bundar sambil menerawang jauh ke arah vertikal, entah apa yang menahan rasa ledakan tapi jelas ini adalah kapital R yang kuat yang tak bisa diraih. Scene berganti dari awan ke lawan. Kalimat bergulir menjadi ucapan demi ucapan yang sangat menyayat. Rasa ledakan berubah melahar, dipotong jeda ibadah lalu lanjut bercengkrama bersama di pinggir persegi panjang. Campur aduk seperti krayon yang patah kecil-kecil dan semuanya berada dalam satu kotak pensil dan tumpah. Biru dongker lengan panjang punya aroma yang khas saat didekati ke indera penciuman. Sudah dekat tapi terasa sangat sulit dijangkau. Di bagian ini yang mewajibkan hari berikutnya harus bisa mengubah biasa. Dari yang ada menjadi sunyi. Seperti ingin melampaui minggu supaya bisa mendayung lagi dari dermaga patah. Ini memang sebuah penutup yang dimau, Semesta pasti sudah memberi episode yang sesuai dengan kemampuan diri. Terima kasih untuk lebih kurang sembilan puluh waktu jilid empat. Senyuuum...

3.28.2017

Memaksakan Diri

Semua berawal dari membaca judul-judul postingan yang dishare oleh teman-teman sesama blogger di grup Whatsapp, I was like... Keren ya mereka sampai sekarang masih konsisten dalam membuat konten blognya, apapun jenis blog mereka; baik daily blog, traveling blog, book lover blog, dsb. Mereka yang sejak awal tahun sudah berniat kapan dan berapa jumlah postingan yang akan mereka publish di blog mereka selama setahun ini membuat saya merasa terpanggil untuk melakukan hal yang sama.

Now, here I am! Memaksakan diri untuk menulis dan bercerita lagi di blog yang sudah sepi pengunjung dan bersarang laba-laba ini. That's okay, selagi masih ada internet dan laptop yang mendukung kegiatan blogging, saya akan berusaha berbagi cerita tentang kehidupan di sini, mengasah otak untuk berpikir dan membahas sesuatu yang sedang hangat dibicarakan. Walaupun sebenarnya kegiatan yang lebih prioritas masih banyak untuk diselesaikan, but I need to write something on my blog untuk sekedar melepas lelah.

Memaksakan diri untuk melakukan hal-hal baik dan bermanfaat adalah tindakan yang benar ketika kita merasa sudah terlalu lama terjebak pada sifat malas. Perlu sebuah trigger atau pemicu supaya rasa malas itu bisa dikalahkan. Misalnya, di bulan pertama di tahun 2017 ini saya sudah menuliskan daftar-daftar keinginan yang harus diselesaikan atau bahasa kerennya resolusi awal tahun, hahaha. Salah satunya adalah mau konsisten ngeblog yang jumlah postingannya lebih banyak dari tahun sebelumnya. Dengan memaksakan diri seperti sekarang, akhirnya muncul juga postingan pertama di 2017, tinggal mengatur kapan dan tentang apa postingan selanjutnya. 

Ngomong-ngomong, tampilan beranda Blogger sekarang udah berubah ya, trus udah punya template baru. Akhirnya dia mengikuti perkembangan jaman. Saking lamanya ga buka blog, sampai takjub lihat perubahannya, hihihi. Good job, Blogger! Semakin menarik semakin menambah semangat buat ngeblog.

12.09.2016

Sayang Mereka

Kadang-kadang sempat berpikir apakah tindakan yang sudah saya lakukan untuk orang-orang yang saya sayangi membuat mereka merasa disayangi? Rasa takut akan mengecewakan mereka selalu menjadi sebuah hal yang rumit bagi saya. Apakah yang saya lakukan itu adalah tindakan terbaik buat mereka? Saya tidak bisa menilainya sendiri karena itu saya butuh masukan dari mereka. Saya ingin tahu bagaimana caranya menjadi seseorang yang sesuai standar mereka agar mereka sepenuhnya merasakan kasih sayang saya. Saya menyayangi mereka dengan sepenuh hati. Saya hanya ingin yang terbaik untuk mereka. 

11.19.2016

Ojek Online

Bagi penduduk yang bermukim dan bekerja di kota besar seperti Jakarta dan sejenisnya, mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ojek online. Siapa yang mau menunggu lama-lama di tengah kemacetan kota? Atau merasa terjebak di dalam sebuah mobil hanya karena kelamaan menunggu mobilnya maju selepas lampu merah perempatan yang jumlah kendaraannya bisa dikategorikan tidak wajar. Rasa ingin cepat sampai di tujuan akhirnya diwadahi dengan adanya trend ojek online yang sudah mulai "beroperasi" sejak tahun 2010/2011. Memang sih, ojek konvesional sudah ada sejak jaman dahulu kala, namun berkat adanya teknologi ponsel genggam pintar atau lebih sering disebut smartphone, ojek online ini mulai menjadi bagian dari kebutuhan penduduk kota besar seperti Jakarta.

Ada Beberapa Aplikasi 
Since I moved to Jakarta in the beginning of this year, I have installed the ojek apps on my phone and been using them for anything I need. I have at least three apps for just in case if one of them is having trouble or something like that. First time using it, I felt special because after I booked, the driver phoned me and came to my location, which I didn't need to get out of my place to look for conventional ojek, the driver automatically knew where I was. And made me thinking: these apps are cool! 

Ke manapun saya merasa butuh transportasi cepat, saya biasanya menggunakan ojek online dan hasilnya rata-rata memuaskan. Pengalaman paling jauh naik ojek online itu adalah ketika harus ke Rawamangun dari Bintaro dan memakan biaya Rp 50.000,- 😂 Ga mungkin segitu kalau pakai taksi, belum dengan macet jalanan. Bawa tas besar dan printer yang saya pangku di bawah guyuran gerimis pagi hari, sampai di Rawamangun kaki pegal 😳. Abang ojeknya saya beri rating bintang lima di aplikasinya karena sabar dalam perjalanan sejauh itu.

Saya di satu pagi
Talking about rating, I have my own method on how to rate the drivers. Start from 5 stars: it is for the driver who comes to my location less than 3 mins; offers me the face mask in the first place without I'm asking for it; drives safely and has some things to talk to me while driving. The 4 stars: it is for the driver who gives me the face mask because I ask for it;  and comes to my location more than 5 mins. And then 3 stars: it is for the driver who did my-4-stars-thing plus drive unsafely and doesn't say something even one word while driving, it sucks and makes me bored. I seldom give 2 or 1 star for the drivers, because I know it will affect to the driver's performance. Well, I'm a good man, right? 😁 

Dari segi ongkos, beberapa perusahaan ojek online yang saya instal selalu bersaing dalam merebut hati pelanggannya, mulai dari menawarkan diskon potongan goceng, ceban, diskon 25%, 50%, bahkan ada yang memberikan free untuk pelanggan yang baru pertama kali menggunakannya. Itulah alasan mengapa saya punya aplikasi ojek online sedikitnya tiga macam, karena jika ada yang punya diskonan lebih banyak saya pasti akan menggunakan aplikasi itu, atau jika keduanya sama-sama memberikan diskon, biasanya saya memutuskan memakai ojek online yang aplikasinya tidak berat jika dijalankan. Selalu ada pilihan, kan?! Hihihi. 

Friend of mine
Now I don't use the apps frequently because I got my own motorcycle. I feel happy because I don't spend the money for paying the online ojek daily anymore. Hahaha 😂. But the apps will be always there on my phone because I know I need them for another necessary thing.