3.27.2014

Ponjay Jalan Besi

Suka senyum kalau lagi senggang sore-sore lalu kemudian ingat kejadian yang membekas di benak. Kali ini tentang kosanku waktu masih jadi karyawan di Jakarta. Kosanku bukan di Jakarta sih, tapi di Bintaro. Ponjay (Pondok Jaya) Jalan Besi, namanya. Tiap mendengar orang berbicara tentang Bintaro atau sekedar baca status-status orang yang berisikan kata Bintaro, aku serasa dibawa ke lorong waktu ke daerah sana, ke kosanku.

Siapa yang aku paling rindukan jika ditanya tentang kosan? Adalah ibu kosan. Wanita paruh baya itu menjelma menjadi ibu kedua saat aku berada jauh dari mama. Beliau tak jauh beda dari mamaku. Rajin bekerja, suka masak, perhatian ke anak-anak kosannya, suka kupasin buah-buahan lalu didinginkan dalam lemari es kalau aku sedang tidak ada atau belum pulang ke kosan. "Fer, ada mangga tuh udah ibu kupasin tadi sore, ambil aja di kulkas" adalah kalimat yang masih aku ingat sampai saat ini. Lalu senyuman ibu Kodir, begitu panggilan beliau, menyambutku pulang kantor sedikit lebih telat dari biasanya. "Macet, Fer? Jam segini baru pulang..." begitu beliau memperhatikan anak-anak kosannya.

Ada mas Didit, anak kosan paling senior yang kira-kira sudah hampir 6 atau 7 tahun ngekos di sana, menyapaku di hari pertama masuk kosan. "Bu kosnya baik banget, jangan kaget kalau pulang kantor suka nemuin makanan atau minuman bikinan si ibu udah standby di depan meja depan kamarmu" kata mas Didit saat berkenalan denganku. Dan kenyataannya benar, aku suka dibuatkan minuman sejenis teh manis atau sirup pake buah serut di dalamnya. Baik banget kan?!

Ada lagi. Saat handuk yang biasa kujemur ke samping rumah tiap abis mandi pagi dan kupakai lagi saat mandi sepulang kantor tidak aku temukan di tempat biasa, tiba-tiba bu Kodir menghampiri "Nyari handuk ya? Itu ditumpukan baju bersih, tadi pagi ibu cuciin soalnya handuk kamu udah bau". Antara ingin menyembunyikan muka karena malu dan bahagia campur aduk, aku berterima kasih pada beliau. Hahahahaha, baik banget.

Waktu bulan puasa 2013, beliau rutin jadi "alarm" untuk bangunin anak-anak kosannya yang muslim. Ditanya satu-satu, "bangun, sahuuur... kamu ada nasi ga? Lauk ada? Ambil ke dapur aja ya sini kalau sedang ga ada..." aaaaahhhh buuu, aku kangen ibuuu... kapan ya kita bisa ketemu lagi... :')

Waktu aku memutuskan untuk balik ke kampung halaman karena lulus seleksi beasiswa S2, beliau sedih. Seakan-akan ada harapan agar aku tetap tinggal di sana menemani dia. Mas Didit yang udah senior di sana juga akan angkat kaki dari kosan bu Kodir karena akan menikah dan tinggal di rumah baru bersama istrinya. Bu Kodir bercerita "kamu kok sebentar banget di sini, Fer... yaaah... ga ada lagi orang Padang yang bawa kripik balado, ga ada lagi orang yg ngomong pake bahasa Padang kalau lagi nelpon sama mamanya..." dengan wajah yang terlihat sedih. "Mas Didit juga sebulan lagi mau pindah abis nikah, ga ada temen lagi ibu..." sambungnya. Aku yang mendengar jadi ikut sedih, dan bulir air mata sudah ada di sudut mata. "Mudah-mudahan ibu sehat selalu ya, bapak juga. Doakan Ferdi sukses dan lancar kuliah nanti. Semoga yang ngekos di sini nanti orangnya baik-baik, bisa jagain ibu kayak kami sekarang..." aku kemudian menyalami tangannya selayak ibu sendiri.

bersama bu Kodir yang baik hati
Aku beruntung bisa mengenal keluarga Ponjay jalan Besi.

Tapi suatu hari nanti di tahun ini, aku sudah punya niat untuk mengunjungi beliau dan pak Kodir suaminya (yang juga baik hatinya), mengunjungi bekas kamar kosanku setahun yang lalu, berbicara banyak dan bersenda gurau lagi dengan mereka. Harus nabung dulu dari sekarang, biar gampang kalau tiba-tiba mendadak ke Jakarta dan Bintaro.

Memori/kenangan tak kan hilang, apalagi yang berhubungan dengan orang-orang superbaik, mereka yang sudah mengajarkan kebaikan, berbagi tanpa mengharapkan imbalan, yang tak kan tega menyakiti. Semoga semuanya dalam keadaan baik-baik saja, amiiin.

3.25.2014

3.17.2014

Hate

"If you want to forget something or someone, never hate it, or never hate him/her. Everything and everyone that you hate is engraved upon your heart; if you want to let go of something, if you want to forget, you cannot hate."
C. JoyBell 

3.15.2014

Menulis Pikiran

Ada rencana ketika menginginkan sesuatu. Sesuatu yang bisa menjadi senyuman dan bisa saja luka. Bertahan butuh energi, tapi ketika sumber energi tidak lagi ada, tidak akan menjadi sebuah senyuman namun menjadi sebuah luka. Folder yang masih bersisa kapasitasnya tiba-tiba penuh dengan dokumen sampah yang sebenarnya hasil dari luka yang telah mengering. Ketika membukanya sama saja akan menghasilkan darah baru. Jika diminta untuk memahami namun tak sanggup, masihkah kau berencana?

3.03.2014

Tidak Di sini

Maafkan aku karena tidak berada di sana untuk menyeka air mataku dan merangkul bahuku sendiri.