Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tenang

Di Balik Layar

Hidup berpindah dari satu fase ke fase berikutnya. Dari semua fase yang sudah terjadi, sepertinya sekarang adalah fase yang beratnya seperti menhir pada zaman Megalitikum. Tidur yang harusnya cukup menjadi kurang karena banyak hal berlarian dalam kepala padahal mestinya rehat. Sepertinya semua orang yang lebih tua pernah melewati fase ini ya. Apa saja kegiatan yang mereka lakukan sampai mereka bertahan hingga sekarang? Gambaran seperti inikah semuanya? Bagi yang tidak berhasil di titik mana mereka berada di momen terakhirnya? Kepala yang sedang kosong ini perlu diisi dengan pelajaran dari orang-orang yang lebih tua yang telah mengupayakan perjuangan hidup mereka. Media daring langganan terakhir memperbarui kontennya pada bulan Juni lalu, apa mereka menyerah? Oh, the struggle is real. Apa yang terjadi di belakang panggung tidak pernah dimunculkan pada khalayak, karena untuk apa juga mereka diberi tahu? Nanti saja jika sudah rilis, begitu kata para sineas. Setelah rilis barulah di balik ...

Tujuh dan Sembuh

Gambar
Stasiun Gambir Gesekan jari mungil di bilangan pusat saat itu memberikan sinyal hijau, namun yang dilihat ternyata bukan. Salah ambil jadwal bisa jadi penyebabnya, karena lupa bahwa pengalaman mengajari betul tentang gegabah yang tidak akan pernah membuahkan karya yang maha. Kedua dan ketiga dalam tujuh hari kalender mencatat kalau ini sebuah rekor baru untuk beradu syair. Kilat tapi nikmat. Tidak pernah terpikir sebelumnya Pesta Rakyat menjadi rute baru dan menyenangkan. Tiga kali sore memesan tujuan ke sebelah material-material mahal, dan itu menjadikan histori teratas di pelindung hijau. Senyum dan malam yang panjang. Kilat tapi tersimpan.  Stasiun Bandung Pengetik laporan ingin semuanya tidak berujung, berbanding terbalik dengan sang penerima yang justru punya tanda baca henti. Tidak bisa bilang tidak, akhirnya sunyi datang bersama senyap di ruangan itu. Soal lubuk hati tidak ada yang tahu berapa dalamnya, tapi bisa dipastikan sebesar apa kesukaan juru ketik pada laporan y...

Bijak Batas

Lupa bahwa ada rambu-rambu yang harus dilihat. Selain tanpa alat penjelas, saat itu hujan pun semakin deras yang membuat keinginan pulang semakin kuat. Faktornya tidak satu, tapi begitulah runutnya di mana pada akhirnya masuk ke ruas yang berlubang dan berilusi. Para kurcaci saling beradu menyadarkan tapi sang tuan masih percaya bahwa air bening pasti akan kering seiring waktu. Hitungan satu lembar lebih sedikit sudah memperlihatkan batas-batas yang membawa ke ingatan pada rambu. Makhluk sekitar tertawa melihat konsep yang direvisi secepat telapak tangan berkeringat saat upacara. Bijaknya sang batas berhasil dibawa untuk catatan baru. Tidak masalah karena lubang pada ruas tersebut bisa dipanjat hanya dengan dua anak tangga. Buku putih yang ternyata berada di kolong peraduan ikut memantau dan menjaga kewarasan. Makhluk sekitar ikut tertawa lagi, dan kebodohan itu bertemu bijak saat refleksi. Batas mewaraskan. 

Dari Jendela

Pembatasan tidak hanya dilakukan oleh sang petinggi untuk para kurcaci. Istilah itu juga dipakai untuk diri sendiri agar mampu memutus syaraf dua arah. Indera keenam mulai terasah karena pergantian halaman spiral yang sudah tidak bisa dihitung lagi dengan jari. Si tukang gali sudah tidak mau lagi masuk ke galiannya karena sadar betapa kurangnya oksigen di sana. Mengenyahkan sekop dari pandangan dan mulai membuat anak tangga. Bisa dibilang sekarang sudah berada di lantai dua karena punya panorama baru dari tempat berdiri. Melihat sekeliling dengan dua mata yang rasanya sudah lama tidak diedarkan. Satu-dua tersangkut namun angin di atas membuatnya bisa melanjutkan keindahan itu dengan dua jentik jari. Sudah yakin membentuk kubus kecil berjendela dan memiliki dudukan. Lebih dari dua belas bisa menikmatinya dan diberi kesempatan melihat kejadian serupa di depan mata. Dahsyat rasanya walau terlihat dari dalam. Sifat tetap menjadi prinsip hidup agar selalu menengadahkan tangan dan berharap k...

Me-rewind

Paling mudah memanggil kembali memori yang jumlahnya berjuta-juta hanya lewat mendengarkan musik sendu disertai suara latar hujan yang jatuh ke jalanan. Dimulai dari episode terakhir yang ukurannya tidak terlalu besar lalu disusul dengan serial-serial lainnya hingga 12 musim. Usang tapi mengasyikkan, walau ada beberapa cuplikan yang membuat masam. Intinya mari sejenak melambat, tidak di sini tapi di kedua belas musim itu.  Episode terakhir kembali hadir ketika kosong menyeruak di antara waktu di mana sebenarnya paham betul tentang bahaya racun mematikan itu. Sang penulis kata-kata bijak mencatatkannya di lembar digital, katanya jangan hanya karena haus maka kau meminum racun yang sama. Si kepala batu masih saja batu, akhirnya terpeleset juga karena musim hujan.  Pindah ke episode dua terakhir yang semuanya serba kilat. Si tak gampang menyerah akhirnya melucuti senjatanya sendiri karena jika dipaksakan yang ada hanyalah ruang hampa, peluru akan terbuang percuma. Perlawanan tida...

Atas Bawah - Ikhlas Melepas

Bukan kehidupan namanya kalau tidak ada kondisi di atas dan juga di bawah. Hidup kurang lengkap kalau cuma merasakan hal yang bahagia-bahagia saja. Kita butuh merasakan sakit untuk bisa merasakan bahagia. Bukan begitu? Kedua hal tersebut selalu datang bergantian. Jika sekarang sedang merasa di bawah atau terluka, jangan khawatir karena nanti pasti akan ada kejadian yang membuat kondisi kembali di atas atau bahagia. Namun keduanya tidak lepas dari teknik ikhlas melepas. Saya sedang mencari cara untuk memakai teknik itu lagi. Lagi? Berarti dulu pernah dan sekarang sedang tidak? Iya, betul. Tahun 2021 ini menjadi tahun kehidupan saya yang sungguh terasa roller coaster- nya. Sebulan sebelum tahun baru, ditambah empat bulan di awal tahun ini, lalu dilanjutkan dengan beberapa bulan setelahnya dan sampai sekarang bagaikan grafik saham yang naik-turun secara tajam tanpa ampun. Berdarah-darah di dalam hati dan pikiran. Semuanya disebabkan karena saya tidak memakai teknik ikhlas melepas. Hid...

2020 Bulan ke Bulan

Gambar
Rasanya ga saya sendiri yang bakal bilang kalau tahun 2020 ini adalah tahun yang sulit. Sulit dari segala aspek kehidupan kayaknya ya. Mungkin juga bagi sebagian orang untuk bertahan hidup aja udah ga bisa dideskripsikan lagi. Semua berubah ketika kasus positif pertama diberitakan di awal bulan Maret, hingga detik ini angka orang yang positif terus meningkat, sedangkan vaksin masih dalam fase pengembangan. Semua menyesuaikan hidup dengan tatanan yang baru. Dan sepertinya kita emang harus berubah ke arah yang lebih baik lagi di tahun depan.  Postingan ini terinspirasi dari vlognya mbak Anka di channel Obrolan Babibu yang judulnya Rangkuman Gallery HP 2020  . Waktu saya cek galeri hp saya ternyata tetep banyak foto-foto yang dihasilkan selama satu tahun ini. Let's check them out! Galeri Januari 2020 Bulan Januari 2020 adalah saat saya lagi semangat-semangatnya nyari tempat tinggal yang lebih dekat stasiun. Memang masih belum kebeli sampai sekarang tapi sejak lihat lokasi dan ben...

Memanggil Sunyi

Tidak banyak yang menyukai sunyi dan tidak banyak juga yang menyadari bahwa sunyi itu tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Itulah hidup yang selalu ada dua sisi seperti ramai dan sunyi, bahagia dan sedih, datang dan pergi, penuh dan kosong. Keduanya selalu bergantian hadir di dalam hidup, tidak pernah hadir bersamaan.  Ketika hidup terasa banyak tekanan, lakukanlah sebentar untuk berhenti. Berhenti untuk memanggil sunyi. Bisa dengan banyak cara, seperti berdoa kepada Yang Maha Pencipta, bermeditasi, atau yang sederhananya menarik dan menghembuskan napas secara sadar utuh. Tekanan yang datang dari luar secara langsung membuat pikiran sempit dan berujung stres. Stres akan menyebabkan pikiran menjadi ramai. Memanggil sunyi adalah seni mengatur stres.  Jika mampu menyadari bahwa keramaian pikiran itu bisa dihilangkan dengan kesunyian, artinya penawar racun yang ada di pikiran sudah ditemukan. Iya, sesederhana itu bukan?! Saya sudah melakukannya. Ketika mendapatkan sebuah trigger...

Apa yang Dibutuhkan Bukan yang Diinginkan

Menyadari bahwa semua yang sudah ada di hidup saat ini sebagai karunia dari Sang Pencipta merupakan sesuatu hal yang wajib disyukuri. Segala sesuatu yang sudah hadir dan tersedia di hidup biasanya berasal dari semua yang dibutuhkan, bukan diinginkan. Mungkin pernah berdoa A, namun yang dikabulkan B. Jangan sedih karena justru Pencipta alam semesta sedang memberi sinyal bahwa apa yang diinginkan biasanya belum dibutuhkan pada saat itu. Lalu, mestikah bersedih jika belum mendapatkan A? Sedih adalah perasaan yang wajar, tapi yang mesti dilakukan adalah berterima kasih kepadaNya karena Dia masih perhatian, masih menyediakan sesuatu untuk hidup. Siapa yang lebih tahu kadar 'seberapa butuh'? Sang Mahatahu. Lalu sebagai makhluk yang dibekali akal dan pikiran, langkah selanjutnya yaitu belajar ikhlas. Biasanya sejalan sih , syukur dan ikhlas adalah sahabat baik. Dua kata itu beriringan yang akan membuat hidup terasa ringan. Ikhlas bahwa memang yang dibutuhkan saat itu adalah B, ikhlas ...

Ini Berat Namun Kita Kuat

Sudah banyak yang dilewati, sudah banyak yang diselesaikan. Kereta cepat bergerak maju di mana pemandangan berubah hijau, kuning, dan hitam. Ketika pintu diminta untuk dikunci, awalnya dua helai kertas berjilid spiral terasa aman, memasuki helai ketiga ternyata ada yang rusak di bagian dalam. Isunya sudah ditemukan dan jendela sudah dibuka untuk mendapatkan oksigen keluar-masuk. Hanya saja Semesta belum menjadikannya lagu yang lengkap. Setelah diputar kembali, berat namun ternyata kita kuat, ya. Perjuangan ini sungguh luar biasa. Program  pelatihan yang akan membuatnya menjadi paket lebih lengkap lagi. Terus bertahan dalam tahapan ini. Terima kasih atas senandungnya, Ariana dan Justin. 

Kembali ke Dalam Diri

Jordan B. Peterson pernah bilang "Kita hanya bisa memahami apa yang kita yakini setelah mengamati diri sendiri. Tanpa melakukan itu, kita tidak mungkin tahu apa yang sebenarnya kita yakini. Diri kita terlalu rumit untuk dimengerti."  Memang serumit itu untuk mengenal diri sendiri. Semakin dewasa, kita semakin paham (harusnya) dengan kemauan diri sendiri. Pengalaman hidup seperti merasakan kebahagiaan, kekecewaan, kesenangan, kesedihan, kemarahan, keterpurukan, kebersinaran, kebanggaan, dan semua yang bisa membuat kita puas mengenyam asam garam kehidupan, membentuk siapa kita secara mantap. Namun apakah kita sudah benar-benar mengenal diri sendiri?  Untuk apa kita kembali ke dalam diri sendiri? Untuk menjadi kuat. Di semua situasi.   Kita sering memandang hidup ini terlalu kompleks. Tekanan dari segala arah datang bertubi-tubi sehingga merasa butuh waktu lebih dari 24 jam sehari untuk menghadapinya. Merasa ini harus dibenerin, itu harus dibenahi, dan h...

Hadiah

Gambar
Saya kadang suka lupa kalau abis kerja keras yang bahkan makan waktu seminggu atau parahnya sebulan, jadi ga sempat main atau relaksasi barang sehari. Kesibukan seminggu biasanya saya ganti dengan tidur seharian di hari Sabtu dan Minggu, cukup kayaknya bikin badan jadi rileks. Namun kenyataannya tidur seharian juga bikin pusing, pemirsa. Tidak keluar rumah juga bikin saya ngerasa aneh. Baca buku udah, nonton serial TV, atau dengerin musik juga udah. Apalagi kalau udah beresin rumah sampai bersih, tapi badan masih pengen bergerak hahaha… Akhirnya hari ini kepikiran mau ke tempat makan enak yang ruangannya santai dengan udara yang masih segar. Yep, I have a place.  Terakhir ke sana sekitar 6-8 bulan yang lalu. Kayaknya tepat untuk kembali ke sana lagi. Saya segera mandi dan siap-siap berangkat dengan KRL yang berjarak tiga stasiun dari rumah. Setelah turun stasiun, agak jalan dikit ke titik penjemputan Gojek, akhirnya sampai juga di tujuan. Selamat memberi hadiah buat diri sendiri,...

Sewajarnya Hidup

Sampai malam itu deretan kata merayap empat kali tanpa terdengar karena sudah masuki gerbang lain. Merekalah yang sebenarnya ditunggu dan yang diharap. Senang di awal saat kedua bola hitam terbuka dan bertemu baca dengannya, sedih di tengah, kosong di penutup. Sampai bertemu kemudian merayap empat kali keluar, sekiranya benar itu akan terjadi mungkin atau namun sudah berbeda harap. Endank Soekamti pun berbisik tentang hal terbit akan tenggelam, hal pasang akan surut, dan hei! Dua pihak sudah melunak melepas. Sahabat-sahabat baik punya masukan tentang sewajarnya hidup yaitu hal-hal ini: habiskan sewajarnya, puaskan sewajarnya, genggam sewajarnya. Bersyukur? Diperbanyak. Senyum rindu untuk semua.

Bulevar

KBBI daring menuliskan arti kata bulevar adalah sebagai jalan raya yang lebar, yang biasanya dengan deretan pohon di kiri-kanannya. Boulevard asal katanya dari Prancis, seperti terdengar mewah ya kalau langsung diambil dari bahasa tersebut. Dan ternyata di bahasa kita sendiri disebut dengan adimarga. Saya baru tau nih, hehehe. Alhamdulillah nambah lagi kosakata baru. Namun, bukan kata secara harfiah tersebut yang akan saya bahas di postingan kali ini. Ngomong-ngomong soal jalanan, saya tipe orang yang senang memperhatikan jalanan serta isinya ketika sedang jalan kaki, bawa motor atau nyetir mobil. Sesekali saya mengeluarkan ponsel untuk memotret sekilas sesuatu yang bagi saya menarik untuk diabadikan. Misalnya para pasukan oranye yang sedang nyebur di got untuk membersihkan sampah supaya aliran got kembali lancar, atau trotoar yang dipenuhi dengan pedagang kaki lima yang tetap menjadi favorit karyawan kantoran saat makan siang, atau dokar yang sedang melintas di bulevar dengan pe...

Bernapas Melepas

Gambar
Kita sedang berada di era modern dan digital, di mana orang-orang berlomba menjadi pusat perhatian secara sengaja, dan biasanya tidak mereka sadari. Saya, kamu, mereka, tanpa sadar (mau ga mau) menjadi korban percepatan arus digital. Apa tandanya? Kita dengan senang hati membagi rutinitas plus berbagai informasi ke media sosial milik kita. Keinginan untuk dilihat, dikomentari, di- like , di- share ke orang lain menjadi tujuan utama ketika main media sosial. Begitu juga dengan orang lain yang akunnya kita follow . Seratus? Dua ratus? Atau lebih dari lima ratus following ? Setiap detik pasti ada update -an dari mereka di media sosial. Kita dengan sukarela berbagi informasi kehidupan di timeline, dan juga dengan sukarela "menelan" informasi tersebut ke otak kita. Akhirnya, isi kepala kita per hari akan penuh dengan hal-hal yang tidak penting dan ga jarang membuat jenuh.  Itulah yang saya rasakan selama dua bulan terakhir. Dimulai ketika beberapa masalah terjadi di kehidup...

Seratus Persen

Lingkaran ini membesar dan terus menyerupai bola salju yang digelindingkan ke arah depan. Sudah tahu rasa sakit tapi tetap melakukannya, maka risiko apa pun harus dimasukkan ke dalam palung di luar bulatan itu. Rasakan! kata mereka. Dua belas kali pada satu ruang yang di awal diperkirakan akan baik tapi sempurna kebalikannya. Wajah depan saat di kereta tiga terisak lembut karena diberondong pertanyaan yang menjatuhkan ke dalam. Oh, tidak perlu ragu, karena sudah seharusnya tidak menghalangi cara keluarnya jalur kecil itu. Bagus, lalu siapa yang akan mengamini kata-kata sakti itu? Mereka lagi. Ya sudah, terima dan langkahkan kedua tungkai itu. Begitu banyak hal di sekeliling jembatan baru yang akan membantu. Percaya sama Semesta, percaya semua berguna pada saatnya.

Nothing is Impossible

I still have friends who still love writing their stories on their blogs. I just need to find time to have mine updated like theirs, but it's seriously difficult. Why? Because I don't have a time schedule to make it easier to do. I just watched Maudy Ayunda Youtube channel. She told that when she has big goal, she makes it simple by break it down to smaller goals so that she can achieve it one by one. Very inspiring!  I'm telling this to myself: you can do it, Fer. Take a note, write down your big goals. Maybe I can start by writing blog first, tell the Universe that you have goals. Writing blog posts make me know what I love. What's next is read more books and journals, so I can easily inspired by those and make me wanna write one. I love reading and writing. I have the experiences such as getting a compensation of my writings, so why I don't carry on with it? You get paid and your thoughts can be absorbed by people out there. Lovely, right? I also want to hav...

Terbiasa Karena Bisa.

Butiran peluh perlahan keluar dari pikiran-pikiran busuk, yang menyebabkan rasa tidak senang karena empat belas waktu terulang tidak berisik di relung. Para pembisik sudah mengatakan apa yang mereka khawatirkan, diulangi lagi tanpa jenuh sampai akhirnya berani mengambil risiko. Awal tahun yang mungkin sanggup diprediksi dengan mudah, hanya saja tak menghiraukannya demi kepentingan berdua. Hei, bukan. Ini sendiri, bukan berdua. Sang penyanyi yang kini tidak di sini punya lagu untuk didengarkan, tapi di usia berapa harus menyimak bait demi bait agar merasa seperjuangan? Itu zaman kuno. Bumi dan Matahari tetap berputar, siang dan malam terus berganti. Di sini awal bulan dimulai lagi dan ambil sisi positifnya, karena masih ada sisa minggu yang banyak untuk menyayangi hati kembali. Jangan menyerah, Semesta melindungi dengan caraNya sendiri.

Tulus dan Ikhlas

"Saya bantu si mpok itu tulus banget tau, mas. Saya sampe beraniin pinjem ke bos besar duit lima juta trus emas yang saya simpan saya jualin buat nambah bantuan buat si mpok itu" cerita mbak Atik kepada saya. Setiap saya bertemu dengan mbak Atik, dia selalu bercerita tentang dinamika kehidupannya. Mulai dari cerita remeh sampai cerita serius kami saling berbagi pengalaman. Mbak Atik ini adalah beauty therapist  di salah satu salon yang ada di Bintaro, Tangerang Selatan. Dalam setahun saya bertemu dengannya sekali sampai dua kali, tergantung dari seberapa kotornya muka saya, karena pria boleh saja melakukan perawatan muka biar makin kece, haaa! Pada pertemuan kami terakhir, di September lalu, dia bercerita tentang kepulangan orang tua laki-lakinya ke Rahmatullah. Bagaimana dia menumpahkan kesedihannya lewat cerita menjadikan saya terbawa suasana. Siapa yang tidak sedih ketika orang yang disayangi pergi untuk selamanya? Cerita demi cerita mengalir sembari dia melakukan pek...

Lingkungan yang Mengubah

Sampai saat ini saya masih percaya bahwa manusia dan lingkungan adalah dua hal yang terus berinteraksi dan saling mempengaruhi. Perilaku manusia bisa mengubah lingkungan dan lingkungan juga bisa mengubah perilaku manusia. Ini bukan sebuah pembahasan tentang materi kuliah Lingkungan tapi hanya sebuah tulisan yang berasal dari pengalaman saya selama berada di lingkungan baru. Saya merasa harus menuliskan ini sebagai bahan bacaan untuk saya di masa depan dan bisa juga sebagai bahan pertimbangan saya untuk bertindak terhadap kondisi-kondisi tertentu.  Kenapa saya mention  dua hal di atas, yakni manusia dan lingkungan, adalah karena saya merasa ada yang berubah dari diri saya sejak berada di Ibu Kota. Walaupun masih dikategorikan sebagai pendatang baru, I don't know why   I'm feeling different   now. Jadi, setelah saya cari referensi tentang teori Psikologi Lingkungan (tautan dari sini ), saya menemukan empat poin bagaimana lingkungan mempengaruhi manusia (dalam hal ...

ط

Lebih kurang dua bulan tidak mengunjungi toko buku Gramedia di daerah Matraman - Jakarta. Biasanya setiap bulan ada keinginan untuk pergi ke sana walau hanya sekedar cuci mata dengan tumpukan buku baru, atau bahkan membeli satu buku baru untuk dibaca di waktu senggang. Tapi dengan jadwal kerja yang sedikit lebih padat daripada biasanya membuat saya tidak sempat main ke sana. Akhirnya saya ke toko buku itu lagi hari Sabtu lalu ketika kepala rasanya butuh refreshing dengan melihat buku-buku baru di rak-rak yang besar. Ada yang punya kesukaan sama dengan saya gini? Hahaha... Semakin ke sini, saya cenderung lebih senang berlama-lama di deretan koleksi buku self-improvement. Membaca beberapa sinopsis buku yang berkaitan dengan keyword  "hidup sederhana dan bahagia" ternyata lebih menarik perhatian saya. Sering kali bacaan tersebut membuka pikiran saya seperti "sadar ga sadar hidup itu butuh diam dan rileks meskipun sebentar". Atau seperti kalimat di bukunya Adjie Si...