Postingan

Menampilkan postingan dengan label Senyum

Di Balik Layar

Hidup berpindah dari satu fase ke fase berikutnya. Dari semua fase yang sudah terjadi, sepertinya sekarang adalah fase yang beratnya seperti menhir pada zaman Megalitikum. Tidur yang harusnya cukup menjadi kurang karena banyak hal berlarian dalam kepala padahal mestinya rehat. Sepertinya semua orang yang lebih tua pernah melewati fase ini ya. Apa saja kegiatan yang mereka lakukan sampai mereka bertahan hingga sekarang? Gambaran seperti inikah semuanya? Bagi yang tidak berhasil di titik mana mereka berada di momen terakhirnya? Kepala yang sedang kosong ini perlu diisi dengan pelajaran dari orang-orang yang lebih tua yang telah mengupayakan perjuangan hidup mereka. Media daring langganan terakhir memperbarui kontennya pada bulan Juni lalu, apa mereka menyerah? Oh, the struggle is real. Apa yang terjadi di belakang panggung tidak pernah dimunculkan pada khalayak, karena untuk apa juga mereka diberi tahu? Nanti saja jika sudah rilis, begitu kata para sineas. Setelah rilis barulah di balik ...

Mempertanyakan Hak

Apakah boleh seorang manusia rendah mempertanyakan hak yang paling mendasar kepada penguasa ketika kewajibannya sudah lengkap? Meski terkadang tidak semuanya sempurna, tapi yang jelas hampir semuanya selesai sebagaimana adanya. Pertanyaan bodoh, jawabnya. Terserah dia mau kapan memberikan hak itu kepadamu, namanya saja penguasa. Lagi pula belum tentu semua yang dikerjakan diterima. Kamu saja tidak pernah membaca detail apa yang menjadi pantangan & kemestian kan?! Hanya kulit luarnya saja, akui saja apa susahnya?  Benar, aku mengakuinya. Namun aku belum pernah lagi menikmati hal itu sejak lima tahun terakhir, jadi bolehkah? Sang Penguasa sepertinya tertawa datar mendengar pertanyaan bodoh itu lagi. Aku menghembuskan napas berat ke sekian kalinya yang membuatku siuman dan bermenung. Ini memang belum saatnya, ibarat tanggal main yang masih jauh dari kata tulat dan tubin. Apa yang harus dilakukan? Sejatinya tidak ada. Daya upaya sudah, bermohon sudah, tinggal tunggu tanggal mainnya...

Tujuh dan Sembuh

Gambar
Stasiun Gambir Gesekan jari mungil di bilangan pusat saat itu memberikan sinyal hijau, namun yang dilihat ternyata bukan. Salah ambil jadwal bisa jadi penyebabnya, karena lupa bahwa pengalaman mengajari betul tentang gegabah yang tidak akan pernah membuahkan karya yang maha. Kedua dan ketiga dalam tujuh hari kalender mencatat kalau ini sebuah rekor baru untuk beradu syair. Kilat tapi nikmat. Tidak pernah terpikir sebelumnya Pesta Rakyat menjadi rute baru dan menyenangkan. Tiga kali sore memesan tujuan ke sebelah material-material mahal, dan itu menjadikan histori teratas di pelindung hijau. Senyum dan malam yang panjang. Kilat tapi tersimpan.  Stasiun Bandung Pengetik laporan ingin semuanya tidak berujung, berbanding terbalik dengan sang penerima yang justru punya tanda baca henti. Tidak bisa bilang tidak, akhirnya sunyi datang bersama senyap di ruangan itu. Soal lubuk hati tidak ada yang tahu berapa dalamnya, tapi bisa dipastikan sebesar apa kesukaan juru ketik pada laporan y...

Bijak Batas

Lupa bahwa ada rambu-rambu yang harus dilihat. Selain tanpa alat penjelas, saat itu hujan pun semakin deras yang membuat keinginan pulang semakin kuat. Faktornya tidak satu, tapi begitulah runutnya di mana pada akhirnya masuk ke ruas yang berlubang dan berilusi. Para kurcaci saling beradu menyadarkan tapi sang tuan masih percaya bahwa air bening pasti akan kering seiring waktu. Hitungan satu lembar lebih sedikit sudah memperlihatkan batas-batas yang membawa ke ingatan pada rambu. Makhluk sekitar tertawa melihat konsep yang direvisi secepat telapak tangan berkeringat saat upacara. Bijaknya sang batas berhasil dibawa untuk catatan baru. Tidak masalah karena lubang pada ruas tersebut bisa dipanjat hanya dengan dua anak tangga. Buku putih yang ternyata berada di kolong peraduan ikut memantau dan menjaga kewarasan. Makhluk sekitar ikut tertawa lagi, dan kebodohan itu bertemu bijak saat refleksi. Batas mewaraskan. 

Dari Jendela

Pembatasan tidak hanya dilakukan oleh sang petinggi untuk para kurcaci. Istilah itu juga dipakai untuk diri sendiri agar mampu memutus syaraf dua arah. Indera keenam mulai terasah karena pergantian halaman spiral yang sudah tidak bisa dihitung lagi dengan jari. Si tukang gali sudah tidak mau lagi masuk ke galiannya karena sadar betapa kurangnya oksigen di sana. Mengenyahkan sekop dari pandangan dan mulai membuat anak tangga. Bisa dibilang sekarang sudah berada di lantai dua karena punya panorama baru dari tempat berdiri. Melihat sekeliling dengan dua mata yang rasanya sudah lama tidak diedarkan. Satu-dua tersangkut namun angin di atas membuatnya bisa melanjutkan keindahan itu dengan dua jentik jari. Sudah yakin membentuk kubus kecil berjendela dan memiliki dudukan. Lebih dari dua belas bisa menikmatinya dan diberi kesempatan melihat kejadian serupa di depan mata. Dahsyat rasanya walau terlihat dari dalam. Sifat tetap menjadi prinsip hidup agar selalu menengadahkan tangan dan berharap k...

Me-rewind

Paling mudah memanggil kembali memori yang jumlahnya berjuta-juta hanya lewat mendengarkan musik sendu disertai suara latar hujan yang jatuh ke jalanan. Dimulai dari episode terakhir yang ukurannya tidak terlalu besar lalu disusul dengan serial-serial lainnya hingga 12 musim. Usang tapi mengasyikkan, walau ada beberapa cuplikan yang membuat masam. Intinya mari sejenak melambat, tidak di sini tapi di kedua belas musim itu.  Episode terakhir kembali hadir ketika kosong menyeruak di antara waktu di mana sebenarnya paham betul tentang bahaya racun mematikan itu. Sang penulis kata-kata bijak mencatatkannya di lembar digital, katanya jangan hanya karena haus maka kau meminum racun yang sama. Si kepala batu masih saja batu, akhirnya terpeleset juga karena musim hujan.  Pindah ke episode dua terakhir yang semuanya serba kilat. Si tak gampang menyerah akhirnya melucuti senjatanya sendiri karena jika dipaksakan yang ada hanyalah ruang hampa, peluru akan terbuang percuma. Perlawanan tida...

Enggan Diperam Di Pendiangan

Tiga rangkaian akan dipecah satu per satu. Dimulai ketika buku yang bercerita tentang masa kecil di pelosok kampung berisikan kata-kata yang memukau, jadilah sebuah kalimat baru yang mewakili seluruh bagian terintegrasi ini. Baiklah. Hendaknya mereka yang mampir sudah mengenal asal paragraf sebelumnya sehingga bisa dipastikan akan paham kenapa bisa sampai di kota pelik ini. Bukanlah ibarat buah yang bisa diperam sehingga membusuk sebelum dimakan. Enggan ikut yang biasa tapi lebih menciptakan hal yang luar biasa. Pernyataan ini membunyikan lorong panjang yang bergaung pelan dan menyibakkan ilalang yang menghadang. Begitu pula di romansa, tiada hari tersisa kosong sebab inginkan sesuatu yang cukup. Walau teori dan praktik belum bertemu imbang tetapi catatan-catatan lama menggunung kemudian membentuk hamparan pelajaran yang utuh. Berhajat panjang sejak lembar pertama yang semua ini kuncinya hanya satu: enggan diperam di pendiangan . Tanpanya kans-kans yang disediakan Semesta tak kan perna...

Apa yang Dibutuhkan Bukan yang Diinginkan

Menyadari bahwa semua yang sudah ada di hidup saat ini sebagai karunia dari Sang Pencipta merupakan sesuatu hal yang wajib disyukuri. Segala sesuatu yang sudah hadir dan tersedia di hidup biasanya berasal dari semua yang dibutuhkan, bukan diinginkan. Mungkin pernah berdoa A, namun yang dikabulkan B. Jangan sedih karena justru Pencipta alam semesta sedang memberi sinyal bahwa apa yang diinginkan biasanya belum dibutuhkan pada saat itu. Lalu, mestikah bersedih jika belum mendapatkan A? Sedih adalah perasaan yang wajar, tapi yang mesti dilakukan adalah berterima kasih kepadaNya karena Dia masih perhatian, masih menyediakan sesuatu untuk hidup. Siapa yang lebih tahu kadar 'seberapa butuh'? Sang Mahatahu. Lalu sebagai makhluk yang dibekali akal dan pikiran, langkah selanjutnya yaitu belajar ikhlas. Biasanya sejalan sih , syukur dan ikhlas adalah sahabat baik. Dua kata itu beriringan yang akan membuat hidup terasa ringan. Ikhlas bahwa memang yang dibutuhkan saat itu adalah B, ikhlas ...

Ini Berat Namun Kita Kuat

Sudah banyak yang dilewati, sudah banyak yang diselesaikan. Kereta cepat bergerak maju di mana pemandangan berubah hijau, kuning, dan hitam. Ketika pintu diminta untuk dikunci, awalnya dua helai kertas berjilid spiral terasa aman, memasuki helai ketiga ternyata ada yang rusak di bagian dalam. Isunya sudah ditemukan dan jendela sudah dibuka untuk mendapatkan oksigen keluar-masuk. Hanya saja Semesta belum menjadikannya lagu yang lengkap. Setelah diputar kembali, berat namun ternyata kita kuat, ya. Perjuangan ini sungguh luar biasa. Program  pelatihan yang akan membuatnya menjadi paket lebih lengkap lagi. Terus bertahan dalam tahapan ini. Terima kasih atas senandungnya, Ariana dan Justin. 

Hadiah

Gambar
Saya kadang suka lupa kalau abis kerja keras yang bahkan makan waktu seminggu atau parahnya sebulan, jadi ga sempat main atau relaksasi barang sehari. Kesibukan seminggu biasanya saya ganti dengan tidur seharian di hari Sabtu dan Minggu, cukup kayaknya bikin badan jadi rileks. Namun kenyataannya tidur seharian juga bikin pusing, pemirsa. Tidak keluar rumah juga bikin saya ngerasa aneh. Baca buku udah, nonton serial TV, atau dengerin musik juga udah. Apalagi kalau udah beresin rumah sampai bersih, tapi badan masih pengen bergerak hahaha… Akhirnya hari ini kepikiran mau ke tempat makan enak yang ruangannya santai dengan udara yang masih segar. Yep, I have a place.  Terakhir ke sana sekitar 6-8 bulan yang lalu. Kayaknya tepat untuk kembali ke sana lagi. Saya segera mandi dan siap-siap berangkat dengan KRL yang berjarak tiga stasiun dari rumah. Setelah turun stasiun, agak jalan dikit ke titik penjemputan Gojek, akhirnya sampai juga di tujuan. Selamat memberi hadiah buat diri sendiri,...

Sewajarnya Hidup

Sampai malam itu deretan kata merayap empat kali tanpa terdengar karena sudah masuki gerbang lain. Merekalah yang sebenarnya ditunggu dan yang diharap. Senang di awal saat kedua bola hitam terbuka dan bertemu baca dengannya, sedih di tengah, kosong di penutup. Sampai bertemu kemudian merayap empat kali keluar, sekiranya benar itu akan terjadi mungkin atau namun sudah berbeda harap. Endank Soekamti pun berbisik tentang hal terbit akan tenggelam, hal pasang akan surut, dan hei! Dua pihak sudah melunak melepas. Sahabat-sahabat baik punya masukan tentang sewajarnya hidup yaitu hal-hal ini: habiskan sewajarnya, puaskan sewajarnya, genggam sewajarnya. Bersyukur? Diperbanyak. Senyum rindu untuk semua.

Bernapas Melepas

Gambar
Kita sedang berada di era modern dan digital, di mana orang-orang berlomba menjadi pusat perhatian secara sengaja, dan biasanya tidak mereka sadari. Saya, kamu, mereka, tanpa sadar (mau ga mau) menjadi korban percepatan arus digital. Apa tandanya? Kita dengan senang hati membagi rutinitas plus berbagai informasi ke media sosial milik kita. Keinginan untuk dilihat, dikomentari, di- like , di- share ke orang lain menjadi tujuan utama ketika main media sosial. Begitu juga dengan orang lain yang akunnya kita follow . Seratus? Dua ratus? Atau lebih dari lima ratus following ? Setiap detik pasti ada update -an dari mereka di media sosial. Kita dengan sukarela berbagi informasi kehidupan di timeline, dan juga dengan sukarela "menelan" informasi tersebut ke otak kita. Akhirnya, isi kepala kita per hari akan penuh dengan hal-hal yang tidak penting dan ga jarang membuat jenuh.  Itulah yang saya rasakan selama dua bulan terakhir. Dimulai ketika beberapa masalah terjadi di kehidup...

Seratus Persen

Lingkaran ini membesar dan terus menyerupai bola salju yang digelindingkan ke arah depan. Sudah tahu rasa sakit tapi tetap melakukannya, maka risiko apa pun harus dimasukkan ke dalam palung di luar bulatan itu. Rasakan! kata mereka. Dua belas kali pada satu ruang yang di awal diperkirakan akan baik tapi sempurna kebalikannya. Wajah depan saat di kereta tiga terisak lembut karena diberondong pertanyaan yang menjatuhkan ke dalam. Oh, tidak perlu ragu, karena sudah seharusnya tidak menghalangi cara keluarnya jalur kecil itu. Bagus, lalu siapa yang akan mengamini kata-kata sakti itu? Mereka lagi. Ya sudah, terima dan langkahkan kedua tungkai itu. Begitu banyak hal di sekeliling jembatan baru yang akan membantu. Percaya sama Semesta, percaya semua berguna pada saatnya.

Terbiasa Karena Bisa.

Butiran peluh perlahan keluar dari pikiran-pikiran busuk, yang menyebabkan rasa tidak senang karena empat belas waktu terulang tidak berisik di relung. Para pembisik sudah mengatakan apa yang mereka khawatirkan, diulangi lagi tanpa jenuh sampai akhirnya berani mengambil risiko. Awal tahun yang mungkin sanggup diprediksi dengan mudah, hanya saja tak menghiraukannya demi kepentingan berdua. Hei, bukan. Ini sendiri, bukan berdua. Sang penyanyi yang kini tidak di sini punya lagu untuk didengarkan, tapi di usia berapa harus menyimak bait demi bait agar merasa seperjuangan? Itu zaman kuno. Bumi dan Matahari tetap berputar, siang dan malam terus berganti. Di sini awal bulan dimulai lagi dan ambil sisi positifnya, karena masih ada sisa minggu yang banyak untuk menyayangi hati kembali. Jangan menyerah, Semesta melindungi dengan caraNya sendiri.

Ingin Bernyawa

Jika saja pertanyaan itu disuarakan kepada yang sama-sama punya kesukaan cerita panjang, jawabannya tentu akan berupa  template. Berulang kali diberi sirene bahwa zona bahaya dan jangan sampai larut ke dalamnya, tapi otak dan hati kadang tidak bekerja sama. Punya keteguhan tentang bisa sejajar tapi selalu goyah berkat tidak punya percaya, alhasil selalu berputar-putar. Satu hari pun bisa menjadi sesal yang pada akhirnya diabaikan. Permainan memutar tahun selalu menjadi cambuk untuk melihat setertinggal apa bongkahan kecil tersebut, tapi tak kunjung bangkit. Pada saat ini, alur yang terulang diikuti dengan saksama. Katanya harus sanggup sampai hati melakukan itu, dan jawabanpun hanya menunggu waktu. Bantuan dari Semesta akan tiba sampai saat yang dibutuhkan oleh nyawa yang ingin hidup. 

Biru Dongker Lengan Panjang

Kebingungan menunggu dua belas angka yang seharusnya menjadi sahabat ketika pulang membuat badan berkeinginan untuk rebah sejenak. Sekitar tiga puluh kemudian kata-kata panjang itu merayap masuk tanpa persiapan, dibaca dengan seksama lalu kaget bukan kepalang karena lawan diam sudah berdiri sempurna di lantai dasar. Jika ada pengeras suara mungkin keheningan menjadi pecah hanya karena dentuman nadi seluruh nyawa bergerak kencang pada saat itu. Mendinginkan suhu di meja bundar sambil menerawang jauh ke arah vertikal, entah apa yang menahan rasa ledakan tapi jelas ini adalah kapital R yang kuat yang tak bisa diraih. Scene berganti dari awan ke lawan. Kalimat bergulir menjadi ucapan demi ucapan yang sangat menyayat. Rasa ledakan berubah melahar, dipotong jeda ibadah lalu lanjut bercengkrama bersama di pinggir persegi panjang. Campur aduk seperti krayon yang patah kecil-kecil dan semuanya berada dalam satu kotak pensil dan tumpah. Biru dongker lengan panjang punya aroma yang khas saat did...

Pertama si Dua Jari

Berdua tahu kalau pernah sama berjalan di setapak kecil. Sebenarnya pertama tidak lagi berbunyi namun selalu terdengar karena kehebatan zaman yang sudah berkembang. Dipertemukan semesta dengan Origami Biru yang dulu memperindah setapak kecil itu. Sekarang dipisah, tetapi terhubung melalui dua logo. Pernah mengajarkan tentang hidup yang sederhana, mengubah sekotak korek api menjadi kapal terbang, menghargai hal kecil, dan banyak lagi. Kini bisa lega karena melihat Pertama berlayar dengan kapal yang megah berwarna merah muda yang layarnya akan selalu terkembang tegap. Jangan takut, tidak akan merusaknya karena melihatnya saja sudah seperti mendapat piala nobel, itu berharga. Jika terbaca, senyumlah karena doa-doa tadi siang menjatuhkan dinding tinggi yang pernah dibangun oleh situasi hitam dulu. Semua bersih sekarang, air-air yang membasuhnya. Berlayarlah menjauh mencari benua impian. Ditolong oleh doa-doa. Amin.

Surat Di Dua Kertas Putih

Dua puluh dan dua puluh lima. Di angka tersebut Surat mendarat di tangan dengan sejumlah doa dan harapan yang mulia dari sang pengirim. Dua Surat jadi penanda bahwa kita tidak remaja dan bisa bertanggung jawab di tahun-tahun ke depan. Tulisan yang serupa dan lipatan yang belum pernah diganti punya tempat tersendiri di folder kulit bajakan. Sesekali membukanya sengaja untuk menyadarkan bahwa dulu kamu diinginkan dan dicinta, maka jangan lupa bersyukur untuk hal itu. Pesan terselip di dua Suratnya punya inti seperti meminta untuk jangan pernah berubah. Jawabnya tidak, tidak akan pernah berubah karena sejak dulu hingga kini, saya tetap orang yang sama. Itu sekilas beritanya. Sampai warna dua kertas putih itu menghitampun, saya tetap saya, seperti yang kalian kenal. Senyuuum...

Enjoy It While It Lasts

Semua yang sudah dilalui pasti mengajarkan sesuatu yang berharga, entah itu mengajarkan tentang kesabaran, kegigihan, keikhlasan, ataupun menghargai sesuatu. Semua yang sedang kita hadapi pasti akan menghasilkan pemikiran tentang bagaimana mencari jalan keluar dengan menggunakan rumus tersingkat tanpa ada yang disia-siakan. Dan semua yang belum kita hadapi akan selalu menjadi misteri di dalam kehidupan ini, namun dengan pengalaman saat ini dan yang sudah-sudah, semua yang belum kita hadapi menjadi tidak begitu mengerikan jika kita menikmati proses sekarang dan menghargai hasil yang pernah kita dapatkan. Jadi, nikmati selagi itu berlangsung. Resapi apa yang sedang dihadapi, sebab ketika itu tidak lagi terjadi setidaknya kita bisa tersenyum sambil menutup mata memikirkan betapa indahnya proses jika kita 'hadir secara utuh' sebelum itu berakhir. Tersenyum... (Padang, 25 Juni 2016, 08:30)

Menghargai dan Mencintai

Tidak sedikit orang bertanya pada saya akhir-akhir ini: siapa gandengan/gebetan/pasangan/pacar ( or whatever they call it ) saya sekarang? Tidak sedikit pula orang memberi masukan dan agak sedikit menakut-nakuti saya perihal jodoh. Kelamaan sendiri bisa mengakibatkan gila, kata mereka. Mungkin benar kalau yang mereka maksud adalah hidup sendiri di sebuah ruangan, tanpa ada alat komunikasi, alat elektronik, dan alat lainnya yang menopang kehidupan modern saat ini. Itu baru masuk akal dan memang bisa bikin gila. Namun kalau kondisinya masih berada di sekitar banyak orang, berinteraksi dengan yang lain bisa dilakukan secara langsung atau menggunakan alat, rasanya tidak gampang menjadi gila seperti yang mereka maksud. Anyway , semua orang berhak menetapkan keinginan hati untuk sendiri, berdua, bertiga, berempat, terserah berapa jumlahnya, asalkan mereka (sesuai jumlah tadi) sama-sama bahagia, tidak saling menyakiti dan membohongi diri sendiri. Seperti sekarang, setelah melewati berbagai k...

Jangan Lupa(kan)

Jangan pakai tiang tinggi-tinggi kalau tidak ingin kesusahan saat memasang bendera. Jangan mengunyah batu ketika tidak ada lagi roti yang ingin ditelan. Jangan menjemur pakaian ketika langit sudah menghitam sekeliling. Jangan mencampur warna hitam ketika tembok ingin dicat putih. Jangan mengukur waktu ketika selama itu tidak dianggap. Jangan berkata-kata jika tau akan menyakiti. Dulu pengaturan diset menjadi tidak akan berkata jangan, namun semakin ke sini men-jangan-kan diri perlu diberi. Agar bisa terus tersenyum.