Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pemikiran

Di Balik Layar

Hidup berpindah dari satu fase ke fase berikutnya. Dari semua fase yang sudah terjadi, sepertinya sekarang adalah fase yang beratnya seperti menhir pada zaman Megalitikum. Tidur yang harusnya cukup menjadi kurang karena banyak hal berlarian dalam kepala padahal mestinya rehat. Sepertinya semua orang yang lebih tua pernah melewati fase ini ya. Apa saja kegiatan yang mereka lakukan sampai mereka bertahan hingga sekarang? Gambaran seperti inikah semuanya? Bagi yang tidak berhasil di titik mana mereka berada di momen terakhirnya? Kepala yang sedang kosong ini perlu diisi dengan pelajaran dari orang-orang yang lebih tua yang telah mengupayakan perjuangan hidup mereka. Media daring langganan terakhir memperbarui kontennya pada bulan Juni lalu, apa mereka menyerah? Oh, the struggle is real. Apa yang terjadi di belakang panggung tidak pernah dimunculkan pada khalayak, karena untuk apa juga mereka diberi tahu? Nanti saja jika sudah rilis, begitu kata para sineas. Setelah rilis barulah di balik ...

Di Balik Layar

Hidup berpindah dari satu fase ke fase berikutnya. Dari semua fase yang sudah terjadi, sepertinya sekarang adalah fase yang beratnya seperti menhir pada zaman Megalitikum. Tidur yang harusnya cukup menjadi kurang karena banyak hal berlarian dalam kepala padahal mestinya rehat. Sepertinya semua orang yang lebih tua pernah melewati fase ini ya. Apa saja kegiatan yang mereka lakukan sampai mereka bertahan hingga sekarang? Gambaran seperti inikah semuanya? Bagi yang tidak berhasil di titik mana mereka berada di momen terakhirnya? Kepala yang sedang kosong ini perlu diisi dengan pelajaran dari orang-orang yang lebih tua yang telah mengupayakan perjuangan hidup mereka. Media daring langganan terakhir memperbarui kontennya pada bulan Juni lalu, apa mereka menyerah? Oh, the struggle is real. Apa yang terjadi di belakang panggung tidak pernah dimunculkan pada khalayak, karena untuk apa juga mereka diberi tahu? Nanti saja jika sudah rilis, begitu kata para sineas. Setelah rilis barulah di balik ...

Fenomena Remaja Nongkrong di Sudirman - Dukuh Atas

Gambar
Fenomena area stasiun Sudirman sampai ke halte Dukuh Atas yang ramai oleh remaja Bekasi, Depok, Citayam, Bojonggede, Cilebut, dsb. itu bukanlah sebuah ancaman yang gimana-gimana dan harus dibubarkan. Sejauh ini belum ada bukti kalau ada vandalisme, tawuran, dan kriminal di daerah itu. Sebatas observasi yang saya lakukan kalau ke sana, ditambah nonton di banyak akun Tiktok, mereka yang ke sana bukan untuk berkelahi dan merusak melainkan untuk ajang pembuktian fesyen siapa yang lebih keren, dan siapa yang bisa viral di Tiktok. Kenapa? Sifat remaja yang akrab dengan media sosial emang begitu. Plus, sekarang sedang libur sekolah sehingga rombongan remaja daerah pinggiran Jakarta bisa ke sana setiap hari. Konten-konten outfit remaja akan di- publish tanpa henti di Tiktok dan disebar lagi di Twitter. Remaja yang viral akan kecanduan nyari perhatian lagi. Hal yang menarik dari remaja dan media sosial adalah mereka menjadi hiperaktif yang seakan-akan menggambarkan gaya hidup mereka dengan menc...

Me-rewind

Paling mudah memanggil kembali memori yang jumlahnya berjuta-juta hanya lewat mendengarkan musik sendu disertai suara latar hujan yang jatuh ke jalanan. Dimulai dari episode terakhir yang ukurannya tidak terlalu besar lalu disusul dengan serial-serial lainnya hingga 12 musim. Usang tapi mengasyikkan, walau ada beberapa cuplikan yang membuat masam. Intinya mari sejenak melambat, tidak di sini tapi di kedua belas musim itu.  Episode terakhir kembali hadir ketika kosong menyeruak di antara waktu di mana sebenarnya paham betul tentang bahaya racun mematikan itu. Sang penulis kata-kata bijak mencatatkannya di lembar digital, katanya jangan hanya karena haus maka kau meminum racun yang sama. Si kepala batu masih saja batu, akhirnya terpeleset juga karena musim hujan.  Pindah ke episode dua terakhir yang semuanya serba kilat. Si tak gampang menyerah akhirnya melucuti senjatanya sendiri karena jika dipaksakan yang ada hanyalah ruang hampa, peluru akan terbuang percuma. Perlawanan tida...

Enggan Diperam Di Pendiangan

Tiga rangkaian akan dipecah satu per satu. Dimulai ketika buku yang bercerita tentang masa kecil di pelosok kampung berisikan kata-kata yang memukau, jadilah sebuah kalimat baru yang mewakili seluruh bagian terintegrasi ini. Baiklah. Hendaknya mereka yang mampir sudah mengenal asal paragraf sebelumnya sehingga bisa dipastikan akan paham kenapa bisa sampai di kota pelik ini. Bukanlah ibarat buah yang bisa diperam sehingga membusuk sebelum dimakan. Enggan ikut yang biasa tapi lebih menciptakan hal yang luar biasa. Pernyataan ini membunyikan lorong panjang yang bergaung pelan dan menyibakkan ilalang yang menghadang. Begitu pula di romansa, tiada hari tersisa kosong sebab inginkan sesuatu yang cukup. Walau teori dan praktik belum bertemu imbang tetapi catatan-catatan lama menggunung kemudian membentuk hamparan pelajaran yang utuh. Berhajat panjang sejak lembar pertama yang semua ini kuncinya hanya satu: enggan diperam di pendiangan . Tanpanya kans-kans yang disediakan Semesta tak kan perna...

Apa yang Dibutuhkan Bukan yang Diinginkan

Menyadari bahwa semua yang sudah ada di hidup saat ini sebagai karunia dari Sang Pencipta merupakan sesuatu hal yang wajib disyukuri. Segala sesuatu yang sudah hadir dan tersedia di hidup biasanya berasal dari semua yang dibutuhkan, bukan diinginkan. Mungkin pernah berdoa A, namun yang dikabulkan B. Jangan sedih karena justru Pencipta alam semesta sedang memberi sinyal bahwa apa yang diinginkan biasanya belum dibutuhkan pada saat itu. Lalu, mestikah bersedih jika belum mendapatkan A? Sedih adalah perasaan yang wajar, tapi yang mesti dilakukan adalah berterima kasih kepadaNya karena Dia masih perhatian, masih menyediakan sesuatu untuk hidup. Siapa yang lebih tahu kadar 'seberapa butuh'? Sang Mahatahu. Lalu sebagai makhluk yang dibekali akal dan pikiran, langkah selanjutnya yaitu belajar ikhlas. Biasanya sejalan sih , syukur dan ikhlas adalah sahabat baik. Dua kata itu beriringan yang akan membuat hidup terasa ringan. Ikhlas bahwa memang yang dibutuhkan saat itu adalah B, ikhlas ...

Hai, Ferdi!

Gambar
Minggu ini adalah minggu paling panjang rasanya karena gajian terasa masih jauh. Namun minggu lalu adalah minggu terhebat di fase awal tahun ini. Perhelatan Kelas Inspirasi Bandung 8 berhasil saya ikuti dengan hati riang dan gembira. Bagaimana tidak? Perjalanan bolak-balik Jakarta-Bandung sendiri, menginap pertama kali di Cimahi sendiri, semuanya terasa seperti solo traveling pada waktu itu. I love what I do , karena dengan melakukan apa yang disenangi akan mengurangi letih dan penatnya kegiatan itu. Terima kasih, kaki. Untung kaki ini ciptaan Allah SWT, kuat banget.  Foto milik: @grandhysetyo Dua minggu sebelumnya usia saya bertambah lagi. Semakin ke sini semakin ingin hidup damai dan bahagia. Namun sepertinya masih harus banyak belajar bagaimana menjadi damai dan bahagia itu. But after all, thanks to all my friends who still remember my day. Cukup membuat hati damai dan bahagia.  Sehari sebelum hari kelahiran, saya 'masuk' ke dalam diri sendiri. Bertanya seper...

Kembali ke Dalam Diri

Jordan B. Peterson pernah bilang "Kita hanya bisa memahami apa yang kita yakini setelah mengamati diri sendiri. Tanpa melakukan itu, kita tidak mungkin tahu apa yang sebenarnya kita yakini. Diri kita terlalu rumit untuk dimengerti."  Memang serumit itu untuk mengenal diri sendiri. Semakin dewasa, kita semakin paham (harusnya) dengan kemauan diri sendiri. Pengalaman hidup seperti merasakan kebahagiaan, kekecewaan, kesenangan, kesedihan, kemarahan, keterpurukan, kebersinaran, kebanggaan, dan semua yang bisa membuat kita puas mengenyam asam garam kehidupan, membentuk siapa kita secara mantap. Namun apakah kita sudah benar-benar mengenal diri sendiri?  Untuk apa kita kembali ke dalam diri sendiri? Untuk menjadi kuat. Di semua situasi.   Kita sering memandang hidup ini terlalu kompleks. Tekanan dari segala arah datang bertubi-tubi sehingga merasa butuh waktu lebih dari 24 jam sehari untuk menghadapinya. Merasa ini harus dibenerin, itu harus dibenahi, dan h...

Bulevar

KBBI daring menuliskan arti kata bulevar adalah sebagai jalan raya yang lebar, yang biasanya dengan deretan pohon di kiri-kanannya. Boulevard asal katanya dari Prancis, seperti terdengar mewah ya kalau langsung diambil dari bahasa tersebut. Dan ternyata di bahasa kita sendiri disebut dengan adimarga. Saya baru tau nih, hehehe. Alhamdulillah nambah lagi kosakata baru. Namun, bukan kata secara harfiah tersebut yang akan saya bahas di postingan kali ini. Ngomong-ngomong soal jalanan, saya tipe orang yang senang memperhatikan jalanan serta isinya ketika sedang jalan kaki, bawa motor atau nyetir mobil. Sesekali saya mengeluarkan ponsel untuk memotret sekilas sesuatu yang bagi saya menarik untuk diabadikan. Misalnya para pasukan oranye yang sedang nyebur di got untuk membersihkan sampah supaya aliran got kembali lancar, atau trotoar yang dipenuhi dengan pedagang kaki lima yang tetap menjadi favorit karyawan kantoran saat makan siang, atau dokar yang sedang melintas di bulevar dengan pe...

Bernapas Melepas

Gambar
Kita sedang berada di era modern dan digital, di mana orang-orang berlomba menjadi pusat perhatian secara sengaja, dan biasanya tidak mereka sadari. Saya, kamu, mereka, tanpa sadar (mau ga mau) menjadi korban percepatan arus digital. Apa tandanya? Kita dengan senang hati membagi rutinitas plus berbagai informasi ke media sosial milik kita. Keinginan untuk dilihat, dikomentari, di- like , di- share ke orang lain menjadi tujuan utama ketika main media sosial. Begitu juga dengan orang lain yang akunnya kita follow . Seratus? Dua ratus? Atau lebih dari lima ratus following ? Setiap detik pasti ada update -an dari mereka di media sosial. Kita dengan sukarela berbagi informasi kehidupan di timeline, dan juga dengan sukarela "menelan" informasi tersebut ke otak kita. Akhirnya, isi kepala kita per hari akan penuh dengan hal-hal yang tidak penting dan ga jarang membuat jenuh.  Itulah yang saya rasakan selama dua bulan terakhir. Dimulai ketika beberapa masalah terjadi di kehidup...

Nothing is Impossible

I still have friends who still love writing their stories on their blogs. I just need to find time to have mine updated like theirs, but it's seriously difficult. Why? Because I don't have a time schedule to make it easier to do. I just watched Maudy Ayunda Youtube channel. She told that when she has big goal, she makes it simple by break it down to smaller goals so that she can achieve it one by one. Very inspiring!  I'm telling this to myself: you can do it, Fer. Take a note, write down your big goals. Maybe I can start by writing blog first, tell the Universe that you have goals. Writing blog posts make me know what I love. What's next is read more books and journals, so I can easily inspired by those and make me wanna write one. I love reading and writing. I have the experiences such as getting a compensation of my writings, so why I don't carry on with it? You get paid and your thoughts can be absorbed by people out there. Lovely, right? I also want to hav...

Lingkungan yang Mengubah

Sampai saat ini saya masih percaya bahwa manusia dan lingkungan adalah dua hal yang terus berinteraksi dan saling mempengaruhi. Perilaku manusia bisa mengubah lingkungan dan lingkungan juga bisa mengubah perilaku manusia. Ini bukan sebuah pembahasan tentang materi kuliah Lingkungan tapi hanya sebuah tulisan yang berasal dari pengalaman saya selama berada di lingkungan baru. Saya merasa harus menuliskan ini sebagai bahan bacaan untuk saya di masa depan dan bisa juga sebagai bahan pertimbangan saya untuk bertindak terhadap kondisi-kondisi tertentu.  Kenapa saya mention  dua hal di atas, yakni manusia dan lingkungan, adalah karena saya merasa ada yang berubah dari diri saya sejak berada di Ibu Kota. Walaupun masih dikategorikan sebagai pendatang baru, I don't know why   I'm feeling different   now. Jadi, setelah saya cari referensi tentang teori Psikologi Lingkungan (tautan dari sini ), saya menemukan empat poin bagaimana lingkungan mempengaruhi manusia (dalam hal ...

Ø·

Lebih kurang dua bulan tidak mengunjungi toko buku Gramedia di daerah Matraman - Jakarta. Biasanya setiap bulan ada keinginan untuk pergi ke sana walau hanya sekedar cuci mata dengan tumpukan buku baru, atau bahkan membeli satu buku baru untuk dibaca di waktu senggang. Tapi dengan jadwal kerja yang sedikit lebih padat daripada biasanya membuat saya tidak sempat main ke sana. Akhirnya saya ke toko buku itu lagi hari Sabtu lalu ketika kepala rasanya butuh refreshing dengan melihat buku-buku baru di rak-rak yang besar. Ada yang punya kesukaan sama dengan saya gini? Hahaha... Semakin ke sini, saya cenderung lebih senang berlama-lama di deretan koleksi buku self-improvement. Membaca beberapa sinopsis buku yang berkaitan dengan keyword  "hidup sederhana dan bahagia" ternyata lebih menarik perhatian saya. Sering kali bacaan tersebut membuka pikiran saya seperti "sadar ga sadar hidup itu butuh diam dan rileks meskipun sebentar". Atau seperti kalimat di bukunya Adjie Si...

Bad Influence of @awkarin’s Account On Instagram for Young Generation

Instagram is one of the most successful social media based on photo and video sharing method. It is used by 500 million active users until June 2016. It enables its users to take pictures and videos, and share them either publicly or privately on the app. I am also one of the active users who use it every day for entertainment. I have been following many accounts with average ages ranging between 15 until 45.  One day I found a controversial account that all of people talk about. Who doesn’t know Karin Novilda a.k.a Awkarin? She is now famous because her photos show extremely inappropriate poses for her age. In fact she’s still 19 and she has more than 900K followers, mostly teenagers. In addition, every move she does was always be shared on her account, such as bad words, the caption she wrote, her poses with the boyfriend (now he is just the ex), the kissing scene, etc. She swears a lot. Those will be very dangerous impact for our young generation. What Awkarin does is p...

Menghargai dan Mencintai

Tidak sedikit orang bertanya pada saya akhir-akhir ini: siapa gandengan/gebetan/pasangan/pacar ( or whatever they call it ) saya sekarang? Tidak sedikit pula orang memberi masukan dan agak sedikit menakut-nakuti saya perihal jodoh. Kelamaan sendiri bisa mengakibatkan gila, kata mereka. Mungkin benar kalau yang mereka maksud adalah hidup sendiri di sebuah ruangan, tanpa ada alat komunikasi, alat elektronik, dan alat lainnya yang menopang kehidupan modern saat ini. Itu baru masuk akal dan memang bisa bikin gila. Namun kalau kondisinya masih berada di sekitar banyak orang, berinteraksi dengan yang lain bisa dilakukan secara langsung atau menggunakan alat, rasanya tidak gampang menjadi gila seperti yang mereka maksud. Anyway , semua orang berhak menetapkan keinginan hati untuk sendiri, berdua, bertiga, berempat, terserah berapa jumlahnya, asalkan mereka (sesuai jumlah tadi) sama-sama bahagia, tidak saling menyakiti dan membohongi diri sendiri. Seperti sekarang, setelah melewati berbagai k...

Halo Dunia

Saya tidak meragukan kedahsyatan Semesta dalam hal kejutan, kejutan baik dan kejutan lainnya. Saat ini saya bisa melengkungkan garis bibir karena apa yang ditulis kemarin berwujud nyata. Satu atau Dua diselipkan dengan ikhlas. Kurang dari sepuluh hari setelahnya, rezeki mengundang untuk bergabung bersama mereka. Senang bukan main. Senang tak terkira. Jalur jauhnya juga terbukti, terima kasih Semesta karena ini yang dimau. Halo dunia, saya siap! 

Onomatophobia

Kata Onomatophobia baru aja saya dapatkan ketika saya iseng googling  tentang ketakutan seseorang terhadap sebuah nama atau kata. Berdasarkan definisi beberapa situs arti kata, onomatophobia berasal dari kata name , nama, jadi begitulah istilah tersebut diciptakan. Ada tujuannya kenapa saya mencari istilah tersebut. Beberapa tahun belakangan ini saya merasa tidak nyaman sekali dengan kata jauh. Lawan kata dari dekat itu sudah hinggap di dalam benak ini dan sangat tidak menyenangkan sekali ketika orang-orang dekat saya mengeluh dengan kalimat yang mengandung kata itu. Aneh, memang. Kata jauh sebenarnya wajar aja digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak mendekati keinginan. "Aduh, rumahnya jauh sekali ya, mana lagi hujan", saya menilai orang yang mengeluh dengan kalimat seperti itu adalah orang yang kebanyakan mager alias males gerak. Kalau ga mau kena hujan, ga usah keluar rumah. Kalau ga mau rumahnya jauh, pindahlah ke tempat yang lebih dekat. Begitu kan?! Wah, say...

Bermasalah

Melihat isi berita di salah satu surat kabar kota Padang hari ini bikin aku garuk-garuk kepala. DPR tandingan lah, Gubernur tandingan lah. Ada-ada aja. Mereka yang sedang duduk di "atas" itu terlihat seperti anak-anak yang sedang berebut mainan, padahal yang mereka rebutin itu punya tanggung jawab yang besar di belakangnya. Adegan mereka berantem juga disajikan dengan gratis untuk masyarakat Indonesia. Lucu kalau mengingat mereka yang punya latar belakang pendidikan tinggi namun bertingkah seperti tidak punya titel di depan dan atau di belakang namanya. Kondisi seperti itulah yang menyebabkan rakyat semakin tidak percaya dengan wakil rakyat, termasuk saya. Tidak percaya mereka akan sanggup menyelesaikan masalah-masalah yang ada di negeri kita tercinta ini, kalau masalah memilih ketua saja ributnya udah kayak gitu. Kemudian aku membolak-balik surat kabar dan berhenti di halaman Artis Ibukota. Dua wanita sensasional, Nikita Mirzani dan Zaskia Gothik, berpose aduhai. Hahaha. ...

Orang Tua Kedua

Gambar
Aku pikir aku akan terus mengagumi sosok guru. Guru apa saja:  guru SD, guru SMP, guru SMA, dosen ketika aku kuliah di perguruan tinggi, sampai guru kehidupan yaitu seorang ibu. Menjadi seorang guru tidaklah mudah, aku telah mencobanya. Serius. Mengajar di kelas yang isinya berbagai watak manusia itu tidak gampang lho. Adakalanya salah satu siswa ingin diperhatikan, di waktu yang bersamaan ada siswa yang tingkahnya seperti kesetanan, alias tidak bisa diam, maunya ngomong terus. Aku jadi teringat praktek mengajar dulu di salah satu SMK di kota Padang. Sebuah pengalaman yang sangat berharga dapat merasakan langsung apa yang dirasakan guru saat mengajar di kelas. Membuat mereka mengerti dengan apa yang kita ajari di depan kelas adalah kepuasan tersendiri yang tidak ternilai. Puncaknya, mendapat karangan bunga dari beberapa siswa menjadi momen yang tak terlupakan bagiku saat masih praktek mengajar dulu. Mereka berterima kasih karena telah menjadi guru praktek yang easy going , ti...

Pribadi yang Silver

Gambar
Ingat Panji Manusia Millenium? Ingat ga awal-awal memasuki tahun 2000, yang semuanya disimbolkan dengan warna silver? Tetangga samping rumah dulu sampe ngecat pagar rumahnya jadi warna silver lho... Saya juga dihipnotis jadi suka (dengan tidak sengaja) gara-gara warna itu jadi trending topic  selama satu tahun. Akhirnya, masuklah warna silver menjadi salah satu warna favorit saya. Kalau diperhatikan, warna silver sebenarnya keliatan sama seperti warna abu-abu tapi bedanya silver lebih mengkilap alias bersinar. Itu pula yang bikin saya lama-lama naksir sama warna ini. "Every cloud has a silver lining ." Gitu kata P.T. Barnum yang diquote oleh beberapa situs Quotes. Yoi banget, setiap orang memiliki lapisan silver. Sebagai sosok yang suka memperhatikan dan membaca hal-hal yang berhubungan dengan masa depan, warna silver menjadi sangat pas untuk mewakili pribadi saya, karena w arna silver menyimbolkan intelektualitas dan teknologi yang tinggi dan menggambarkan...

Saya Salut dan Bangga, Kamu?

Gambar
Men are from Mars, women are from Venus , begitu bunyi judul buku karangan John Gray, Ph.D. Meski saya belum sempat membaca buku itu, tapi saya udah lama dengar dan baca sekilas kalimat itu. Oke, kali ini saya ga bahas isi buku itu kok, tapi kali ini saya ingin bicara soal perempuan. Gambar dari: http://goo.gl/rRzAH Begitu banyak hal yang saya kagumi dari sosok perempuan.  Walaupun ketika ada masalah, perempuan lebih suka menangis karena memiliki perasaan yang halus, dan terkadang hal itu yang bikin laki-laki merasa geram. Hahaha. Perempuan juga lebih hebat dalam komunikasi nonverbal (ekpresi wajah, gerak tubuh, kontak mata), hal-hal yang sedikit aja ada yang ga beres, perempuan langsung bisa merasakan hal itu dan mengekspresikannya. Kesabaran seorang perempuan juga menempati urutan atas di hal-hal apa yang bikin saya bangga terhadap sosok perempuan. Contohnya ketika seorang perempuan lagi dalam proses hamil lalu melahirkan dan kemudian merawat dan membesarkan anakny...