Enggan Diperam Di Pendiangan

Tiga rangkaian akan dipecah satu per satu. Dimulai ketika buku yang bercerita tentang masa kecil di pelosok kampung berisikan kata-kata yang memukau, jadilah sebuah kalimat baru yang mewakili seluruh bagian terintegrasi ini. Baiklah. Hendaknya mereka yang mampir sudah mengenal asal paragraf sebelumnya sehingga bisa dipastikan akan paham kenapa bisa sampai di kota pelik ini. Bukanlah ibarat buah yang bisa diperam sehingga membusuk sebelum dimakan. Enggan ikut yang biasa tapi lebih menciptakan hal yang luar biasa. Pernyataan ini membunyikan lorong panjang yang bergaung pelan dan menyibakkan ilalang yang menghadang. Begitu pula di romansa, tiada hari tersisa kosong sebab inginkan sesuatu yang cukup. Walau teori dan praktik belum bertemu imbang tetapi catatan-catatan lama menggunung kemudian membentuk hamparan pelajaran yang utuh. Berhajat panjang sejak lembar pertama yang semua ini kuncinya hanya satu: enggan diperam di pendiangan. Tanpanya kans-kans yang disediakan Semesta tak kan pernah masuk ke dalam folder memori. Kadang-kadang terpeleset di lubang becek berkali-kali, kadang pula terjerembab di salah satu kubangan, dan paling sakit ketika tersungkur. Semua itu jika tetap di dalam lingkaran, maka segi-segi yang baru tak kan terpatri. Terima kasih, Semesta. 

Komentar

  1. menebak2 apakah ini soal merantau atau cuma curhat bebas aja?
    baru sempat jalan ke blog Ferdi lagi setelah baca komen beberapa bulan lalu. ah aku nggak mau bales yang ala-ala motivator pengusaha haha lah usaha aja masih kecil banget =D kalau ada keinginan punya usaha terserah Ferdi mau mulai kapan, Ferdi yang tahu kesiapan pribadinya sendiri seperti apa. Cuma akan lebih baik dimulai saat usia kita masih produktif, gitu aja.

    BalasHapus

Posting Komentar

silahkan dikomen.... jelek2 jg gpp...
ga marah kok, paling gue jampi2 ntar malamnya...
hahahaha...

Postingan populer dari blog ini

Tentang Malam di Pekan Budaya Sumatera Barat part. I

Pengalaman Latsar tapi Tidak Rasa Latsar

2020 Bulan ke Bulan