Langsung ke konten utama

Postingan

Kembali ke Dalam Diri

Jordan B. Peterson pernah bilang "Kita hanya bisa memahami apa yang kita yakini setelah mengamati diri sendiri. Tanpa melakukan itu, kita tidak mungkin tahu apa yang sebenarnya kita yakini. Diri kita terlalu rumit untuk dimengerti." 
Memang serumit itu untuk mengenal diri sendiri. Semakin dewasa, kita semakin paham (harusnya) dengan kemauan diri sendiri. Pengalaman hidup seperti merasakan kebahagiaan, kekecewaan, kesenangan, kesedihan, kemarahan, keterpurukan, kebersinaran, kebanggaan, dan semua yang bisa membuat kita puas mengenyam asam garam kehidupan, membentuk siapa kita secara mantap. Namun apakah kita sudah benar-benar mengenal diri sendiri? 
Untuk apa kita kembali ke dalam diri sendiri?
Untuk menjadi kuat. Di semua situasi.
Kita sering memandang hidup ini terlalu kompleks. Tekanan dari segala arah datang bertubi-tubi sehingga merasa butuh waktu lebih dari 24 jam sehari untuk menghadapinya. Merasa ini harus dibenerin, itu harus dibenahi, dan harus dalam waktu yang bersa…
Postingan terbaru

Hadiah

Saya kadang suka lupa kalau abis kerja keras yang bahkan makan waktu seminggu atau parahnya sebulan, jadi ga sempat main atau relaksasi barang sehari. Kesibukan seminggu biasanya saya ganti dengan tidur seharian di hari Sabtu dan Minggu, cukup kayaknya bikin badan jadi rileks. Namun kenyataannya tidur seharian juga bikin pusing, pemirsa. Tidak keluar rumah juga bikin saya ngerasa aneh. Baca buku udah, nonton serial TV, atau dengerin musik juga udah. Apalagi kalau udah beresin rumah sampai bersih, tapi badan masih pengen bergerak hahaha… Akhirnya hari ini kepikiran mau ke tempat makan enak yang ruangannya santai dengan udara yang masih segar. Yep, I have a place.  Terakhir ke sana sekitar 6-8 bulan yang lalu. Kayaknya tepat untuk kembali ke sana lagi. Saya segera mandi dan siap-siap berangkat dengan KRL yang berjarak tiga stasiun dari rumah. Setelah turun stasiun, agak jalan dikit ke titik penjemputan Gojek, akhirnya sampai juga di tujuan. Selamat memberi hadiah buat diri sendiri, Fer…

Sewajarnya Hidup

Sampai malam itu deretan kata merayap empat kali tanpa terdengar karena sudah masuki gerbang lain. Merekalah yang sebenarnya ditunggu dan yang diharap. Senang di awal saat kedua bola hitam terbuka dan bertemu baca dengannya, sedih di tengah, kosong di penutup. Sampai bertemu kemudian merayap empat kali keluar, sekiranya benar itu akan terjadi mungkin atau namun sudah berbeda harap. Endank Soekamti pun berbisik tentang hal terbit akan tenggelam, hal pasang akan surut, dan hei! Dua pihak sudah melunak melepas. Sahabat-sahabat baik punya masukan tentang sewajarnya hidup yaitu hal-hal ini: habiskan sewajarnya, puaskan sewajarnya, genggam sewajarnya. Bersyukur? Diperbanyak. Senyum rindu untuk semua.

Bulevar

KBBI daring menuliskan arti kata bulevar adalah sebagai jalan raya yang lebar, yang biasanya dengan deretan pohon di kiri-kanannya. Boulevard asal katanya dari Prancis, seperti terdengar mewah ya kalau langsung diambil dari bahasa tersebut. Dan ternyata di bahasa kita sendiri disebut dengan adimarga. Saya baru tau nih, hehehe. Alhamdulillah nambah lagi kosakata baru. Namun, bukan kata secara harfiah tersebut yang akan saya bahas di postingan kali ini.
Ngomong-ngomong soal jalanan, saya tipe orang yang senang memperhatikan jalanan serta isinya ketika sedang jalan kaki, bawa motor atau nyetir mobil. Sesekali saya mengeluarkan ponsel untuk memotret sekilas sesuatu yang bagi saya menarik untuk diabadikan. Misalnya para pasukan oranye yang sedang nyebur di got untuk membersihkan sampah supaya aliran got kembali lancar, atau trotoar yang dipenuhi dengan pedagang kaki lima yang tetap menjadi favorit karyawan kantoran saat makan siang, atau dokar yang sedang melintas di bulevar dengan pernak…

Bernapas Melepas

Kita sedang berada di era modern dan digital, di mana orang-orang berlomba menjadi pusat perhatian secara sengaja, dan biasanya tidak mereka sadari. Saya, kamu, mereka, tanpa sadar (mau ga mau) menjadi korban percepatan arus digital. Apa tandanya? Kita dengan senang hati membagi rutinitas plus berbagai informasi ke media sosial milik kita. Keinginan untuk dilihat, dikomentari, di-like, di-share ke orang lain menjadi tujuan utama ketika main media sosial. Begitu juga dengan orang lain yang akunnya kita follow. Seratus? Dua ratus? Atau lebih dari lima ratus following? Setiap detik pasti ada update-an dari mereka di media sosial. Kita dengan sukarela berbagi informasi kehidupan di timeline, dan juga dengan sukarela "menelan" informasi tersebut ke otak kita. Akhirnya, isi kepala kita per hari akan penuh dengan hal-hal yang tidak penting dan ga jarang membuat jenuh. 
Itulah yang saya rasakan selama dua bulan terakhir. Dimulai ketika beberapa masalah terjadi di kehidupan pribadi …

Seratus Persen

Lingkaran ini membesar dan terus menyerupai bola salju yang digelindingkan ke arah depan. Sudah tahu rasa sakit tapi tetap melakukannya, maka risiko apa pun harus dimasukkan ke dalam palung di luar bulatan itu. Rasakan! kata mereka. Dua belas kali pada satu ruang yang di awal diperkirakan akan baik tapi sempurna kebalikannya. Wajah depan saat di kereta tiga terisak lembut karena diberondong pertanyaan yang menjatuhkan ke dalam. Oh, tidak perlu ragu, karena sudah seharusnya tidak menghalangi cara keluarnya jalur kecil itu. Bagus, lalu siapa yang akan mengamini kata-kata sakti itu? Mereka lagi. Ya sudah, terima dan langkahkan kedua tungkai itu. Begitu banyak hal di sekeliling jembatan baru yang akan membantu. Percaya sama Semesta, percaya semua berguna pada saatnya.